Wednesday, August 17, 2016

jalan jalan di mall sama suaminya



"eh topi yang di atas meja itu bagus ya, yang abu abu"

"itu kan bra"

(jeda satu detik) "tapi kan masih bisa dipakai buat topi"



Tuesday, August 16, 2016


setelah beberapa kali lihat anak anak bawa keranjang sumbangan di jalanan

"aku nggak ngerti lo sama fenomena anak anak sekolah minta uang di lampu merah buat bikin acara-acara sekolahnya gitu. padahal ada banyak cara lain kan buat kumpulin uang. kalau dulu pas aku sekolah kami bisa jualan stiker, jualan kaos, gantungan kunci, atau bikin & ajuin proposal buat product placement gitu. aku nggak masalah si kalau mereka di jalanan cari uang, tapi jualan. jualan karya, makanan, kan banyak hal yang bisa dijual. yang penting bukan minta-minta kayak anak nggak kreatif. itu sekolahannya pada tau apa enggak ya. kalau sekolah tau, tapi kok nggak dilarang. di sekolah bukannya diajarin pinter cari cara kreatif, malah diajarin males malesan"

"wwoohh.. sayang ya aku lagi nyetir"

"kenapa memang?"

"ya aku mau standing ovation jadi nggak bisa"

"..."

jangan gituuu..


suaminya lihat istrinya ngerjain soal soal basa inggris, trus komentar

"kok rajin banget belajarnya. dari tadi serius banget"

"ya habis. masak kata aplikasi ini kemampuan basa inggrisku cuma 23%. masak aku segitunya!"

"ya udaaah belajar pelan pelan aja.. kamu tau nggak, istriku kalau liat orang kayak kamu gitu dia trus ngomongnya gimana?"

"gimana"

"JANGAN LEBHAAAY!"

"............................................"


ya memang gitu..



*lagi nonton olimpiade rio 400m hurdles perempuan*

suami:
"liat. habis lari kayak gitu mereka napasnya masih tenang. capeknya cuman kayak aku kalau habis makan soto"



Friday, August 5, 2016

no dumping

"... I'd heard the aphorism "Happy wife, happy life" or put another way, "If Mama ain't happy, ain't nobody happy". At first I'd thought that sounded great --- yippee, it's all about pleasing me! --- but if these sayings are true, it's a tremendous responsibility."


-gretchen rubin, the happiness project-



kenapa membaca itu penting (2)

masih bapak-bapak uber yang sama..

"mbak tau nggak. saya dulu mbak, pas masih kerja di papua, kan papua tu masih banyak hutan-hutan gitu ya, jadi disana tu masih banyak mbak penunggunya"

"maksudnya gimana pak?"

"ya penunggu, mbak. makhluk halus! makhluk yang nggak kasat mata, di hutan-hutan itu"

"ooh.."

"nah. saya kan suka ngrokok di tengah hutan tu, sambil nenangin pikiraaan.. gitu ya mbak, saya jalan ke hutan, ngrokok disitu, pas udah diisep setengah, nanti saya pasti tinggalin tu sisa rokoknya di tengah hutan situ, saya mikir, tu nanti rokok saya tinggalin buat penunggu hutan situ mbak, biar seneng mereka. biar nggak ganggu saya kan"

"waduh. rokok ditinggal gitu, nanti kalo kebakaran hutan gimana pak.."

"loooh.. semua orang juga kayak gitu kok disana mbak. udah pada tau, kalo ngrokok di hutan, setidaknya ninggalin setengah setengah batang lah buat penunggu disana, istilahnya, biar nggak diganggu, kita kan"


Wednesday, July 13, 2016

kenapa membaca itu penting?

sopir uber lempar botol plastik keluar sembari nyetir mobilnya bilang begini:

"kasih rejeki dulu buat pemulung. kalau saya buang sampah di jalan gini kan, besok pagi bisa ditemuin sama pemulung. itu kan sama aja kasih rejeki mbak, buat mereka. mereka pasti seneng pagi pagi dapat botol plastik. saya tu orangnya selalu mikirin orang lain, mbak. walaupun saya nggak kenal, gimana caranya selalu berusaha berbuat baik sama orang lain"