Saturday, April 23, 2022

..

tanah para pemenang pejuang


tapi memang, ya:  aku selalu ingin menang  aku tidak suka kalah. hari ini aku melihat kemenangan seseorang, tangan dan pundakku panas. ulu hatiku sakit. padahal dia tidak menang melawan aku, dan aku tidak kalah melawan dia. lalu aku melihat orang-orang yang berbondong-bondong ikut merasa bangga dan memberikan selamat. tangan dan pundakku semakin terasa panas. ulu hatiku terasa sakit sekali. kami tidak sedang berkompetisi. tapi kenapa aku merasa kalah? udah pun kalah, aku pun menyadari kemungkinan bahwa aku bukan orang yang baik pula. orang yang tidak bisa bahagia dengan keberhasilan orang lain. orang macam apa itu? MASA SIH, AKU BEGINI?!

tanganku mengepal erat. dengan kesakitan, aku duduk dan memejamkan mata. aku tarik napas dalam sekali, dan menghembuskannya panjang sekali. lalu aku membuka mataku. 

di hadapanku aku melihat seorang anak perempuan berkaus merah bercelana biru sedang berdiri di sebuah taman bermain. rambutnya merah panjang, diikat dengan karet warna-warni. tangannya mengepal memegang sebuah krayon berwarna hijau. dia sedang apa? anak-anak di sekelilingnya berlarian sambil berteriak-teriak dan tertawa. tapi dia sendirian sedang berdiri terpaku. sedang melihat apa? 

aku dekati dia. dia sepertinya kaget melihatku. oh, apa dari tadi dia sedang melamun? aku ajak dia bicara, tapi dia diam saja. dia hanya melihatku, tapi matanya berbicara, bercerita - banyak sekali.

aku tanya apa aku boleh peluk dia ? dia seperti berpikir keras sekali sampai akhirnya dia menganggukkan kepalanya. kupeluk dia, lalu aku bilang:

"nggak apa-apa. kamu anak baik. kamu suka menang, ya? kita sama. aku juga suka menang."

dia tampak kaget, tapi dia memutuskan untuk menungguku bicara lagi. "kamu bukan anak yang jahat karena kamu tidak senang ketika melihat orang lain menang. kamu kesakitan, karena ketika orang lain menang, kamu mengira itu berarti kamu kalah. kamu sedih, karena setiap kamu kalah, gagal, salah, kamu selalu ditinggalkan sendirian."

"aku datang ke sini, untuk kasih tau kamu kalau orang lain menang, itu bukan berarti kamu kalah. orang lain berhasil, tidak sama dengan kamu gagal. dan orang lain benar, belum tentu kamu salah."

"kemenangannya itu kemenanganmu juga. dia berhasil, adalah keberhasilanmu juga. kenapa?" matanya yang bulat terlihat membesar. "karena dia bekerja keras untuk mendapatkannya. sama seperti kamu."

"dan kalau kamu kalah, gagal, atau salah sekalipun. itu TIDAK APA-APA. semua orang kalah, gagal, dan salah - setiap waktu. bahkan kita itu harus pernah gagal, harus pernah kalah, harus pernah salah. harus rasakan dan alami semuanya sebanyak-banyaknya semacam-macamnya agar bisa jadi manusia yang kaya."

"aku sedih, selama ini kamu diberi tau hal yang enggak benar, dan ditinggal sendiri ketika gagal, kalah, salah. kamu jadi merasa kalau kamu tidak punya pilihan lain selain menang. kamu merasa kamu harus selalu berhasil, tidak boleh gagal. kamu terus diam di situ, karena kamu takut kamu salah langkah, & ditinggal sendirian lagi."

"tapi nggak apa-apa. sekarang aku ada di sini. aku pintar, besar, dan kuat. jadi aku bisa kasih tau kamu yang lebih benar & aku bisa temani kamu. aku bisa melindungi kamu. & kamu aman di sini. kamu nggak akan pernah sendirian lagi."

aku melihat matanya yang besar menyala-nyala. lalu aku bilang sama dia, "kamu boleh melakukan apa saja yang kamu suka. karena aku percaya kamu akan selalu memilih yang bagus, dan selalu melakukan yang baik. karena aku tau kamu." aku tunjuk dadanya dengan jariku. "kamu anak baik. jadi lakukan apapun yang kamu suka. kamu boleh tidur. kamu boleh belajar apa saja, kamu boleh bermain - yang ini harus. aku percaya kamu. dan aku menyayangimu dan mendukungmu, apapun yang kamu pilih. apapun yang kamu lakukan."

anak ini tetap tidak bersuara. tapi tangannya tidak lagi mengepal kencang. dia balas memelukku dengan lebih erat. erat sekali, sampai kami menjadi satu. aku adalah dia. dia adalah aku. aku memejamkan mataku. aku tarik napas dalam sekali. aku hembuskan panjang sekali. 

ketika aku membuka mataku, kulihat seorang anak kecil lainnya. dia mirip sekali dengan anak perempuan yang tadi, tapi anak ini laki-laki. tangannya mengepal erat sekali, dan pundaknya bergetar kuat. aku dekati dia, tapi dia tidak mengacuhkanku. dia sedang apa?

aku duduk di sampingnya. lama sekali kami saling diam, tapi dia tidak pergi. akhirnya dia melihat ke arahku. dan aku melihat wajahnya. ternyata dia sedang menangis.

aku bilang padanya: "nggak apa-apa. kamu anak baik. aku sedih kamu harus mengalami segala hal yang menyakitkan, dan kamu sendirian. tapi sekarang aku bisa melihat kamu. terima kasih banyak sudah bekerja keras. terima kasih banyak sudah melakukan yang terbaik. terima kasih sudah membangun benteng yang tinggi dan kuat untuk aku. tapi aku tidak memerlukannya lagi sekarang. karena aku sudah besar. dan pintar. dan kuat. jadi kamu tidak perlu takut lagi untuk aku."

aku tanya apa aku boleh memeluknya. dia bilang bajunya kotor. dia nggak mau bajuku ikut kotor. aku bilang nggak apa-apa. baju kotor mudah dicuci. aku peluk dia erat sekali. kupejamkan mataku, dan kutarik napas dalam sekali, lalu kuhembuskan panjang sekali.

ketika kubuka mataku, dadaku sudah tidak sakit lagi.

..

selamat dan terima kasih untuk kemenanganmu, keberhasilanmu, kerja kerasmu. kamu pantas mendapatkannya. terima kasih sudah hidup. aku beruntung selalu dipertemukan dengan para pemenang. para pejuang. semoga kamu selalu sehat & bahagia & dicukupkan, agar kamu bisa terus berkarya dengan gembira.


Saturday, February 5, 2022

main character syndrome

orang-orang di sekitarku selalu bilang kalau hidupku drama sekali. aku nggak ngerti maksudnya drama itu bagi mereka positif atau negatif. mungkin saja maksudnya negatif ya, karena bahkan istilah drama queen kan bukan pujian. aku juga kalau merasa hidupku lagi banyak drama, itu juga biasanya bukan karena sedang senang. aku kapan itu baca di mana, “kalau kamu in a realtionship sama seseorang & rasanya seperti ada di dalam cerita filem, itu adalah major red flag.” uh.

selama ini aku berpikir semua orang ya hidupnya kayak di filem-filem itu. karena kan orang bikin cerita dari mana coba kalau nggak dari mengalami dan mengamati, kan? dan aku sendiripun selalu relate dengan tokoh-tokoh di cerita series, filem, komik, ataupun buku. tapi aku baru tau, kalau bukan itu yang terjadi. kebanyakan orang lain itu ternyata hidupnya boring. dan ternyata menurut para ahli kesehatan mental, hidup yang boring itu jauh lebih baik daripada hidup drama kayak di filem. aku sih percaya, soalnya aku juga sama sekali nggak merasa kalau hidup kayak di filem itu lebih baik - meskipun selama ini kukira semua orang hidupnya kayak di filem. hidup kayak di filem itu cape. tapi ini mungkin karena aku sudah tua.

mungkin karena aku sudah tua juga, aku semakin nggak bisa relate sama cerita-cerita fiksi ini - meskipun semakin ke sini, cerita fiksi semakin jujur. (kalau kata basuki: “cerita jaman sekarang tu terlalu kompleks, aku lebih suka filem-filem jaman dulu yg cerita & konfliknya sederhana.”) aku pikir ya itu karena elu nggak tahan aja sama realita. kalau konflik hidup itu ternyata nggak selalu “happy ending”, sebagian besar kenyataan tidak sesuai dengan yang kita rencanakan, dan ternyata manusia bahagia itu bukan karena dia orangnya memang happy, tapi karena in a way, dia memilih & mengusahakannya setiap hari. buat aku, manusia itu kompleks, kayak galaksi. pernah nggak, lihat paramecium pakai mikroskop? itu baru paramecium.

makin ke sini tu, aku pikir lagi cerita-cerita drama itu dibuat nggak melulu dari pengalaman dan pengamatan, tapi juga penyangatan (kontras), dan harapan. aku pikir kalau orang nggak bisa lihat ini tu rada bahaya soalnya tanpa disadari, bisa kebawa di kehidupan nyata, dan bikin susah untuk melepas harapan & menerima kenyataan di kehidupan sendiri. seperti lari dari kenyataan. tapi ya mungkin semua orang udah ngerti ini sih, ya. yang nggak ngerti sendiri tu aku. soalnya banyak banget yang suka bilang: “ya itu kan di fileeem, di kenyataan kan nggak gitu,” & aku sendiri yang suka: “oyaa?!” hahahah. 

benernya tadinya mau nulis bedanya realita dan cerita fiksi - terutama drama jaman dulu yang sederhana-sederhana ceritanya macam meteor garden. (halah sekarang sinis, padahal dulu juga suka). tapi ini kok udah panjang banget gini ya, tulisannya. kusudahi aja dululah biar nggak boring - kayak hidupmu. wk.

day 37

terima kasih atas kelahiranmu

terima kasih atas pertemuan kita

terima kasih atas kehidupanmu

bahkan malam ini aku berterima kasih atas kematianmu

aku berterima kasih untuk kamu. 

segala tentang kamu adalah kasih sayang kepadaku.

Wednesday, January 26, 2022

matrix (iii)

baik. kalau di dunia ini hanya ada manusia yang tau dan manusia yang tidak tau, berapakah harga yang harus dibayar untuk menjadi tau?

dulu aku kira aku tidak akan sanggup membayar harga ketidak tauan. jadi aku memilih untuk tau, dan menyanggupi untuk membayarnya berapapun harganya. 

dulu aku memilih hidup. 

saat ini aku sampai pada titik di mana aku berpikir aku tidak mampu lagi membayarnya. aku tidak tau bagaimana caranya hidup. apakah dulu aku semestinya pilih telan pil biru saja? orang tidak akan menderita selama dia tidak tau dia menderita.

..

lalu di mana tempatnya orang-orang seperti aku; yang tidak berani hidup, tapi tidak sanggup mati?



Friday, January 21, 2022

ignorant (ii)

aku pikir-pikir lagi, sebetulnya di dunia ini tidak ada ya, orang jahat dan orang baik. yang ada itu orang yang tau, dan orang yang tidak tau. sepertinya jadi jauh lebih sederhana, tapi enggak juga. karena untuk membuat orang yang tidak tau jadi tau, tidak sesederhana itu. karena mungkin kita semua tidak mau tau dalam hal-hal tertentu.

ya gimana bisa jadi manusia yang tau, kalau tidak mau tau, kan?

Wednesday, January 12, 2022

manusia setengah-setengah (i)

mau jadi orang baik, enggak mampu.

mau jadi orang jahat, enggak berani.


Friday, January 7, 2022

oase

dari dulu aku adalah anak yang aneh dan tidak suka basa basi. padahal ketika berkunjung ke rumah saudara, aku melihat orang-orang dewasa suka sekali berpura-pura peduli, sangat senang berpura-pura hidupnya normal, dan selalu berpura-pura bahagia telah dikunjungi dan mengunjungi. itu kenapa aku dulu sangat tidak suka saat berkunjung ke rumah simbah, pakde, bude. aku selalu cemas dari beberapa hari sebelumnya, & ketika tiba saatnya, aku ingin semuanya cepat berlalu. (meskipun saat itu aku tampak sebagai kebanggaan keluarga sekalipun: anak yang sopan, pintar, berprestasi, ranking 1, sekolah di sekolah favorit dll dsb dst - bukan anak yang belum punya rumah, belum punya anak & tidak jelas pekerjaannya apa. hahahah)

tapi di dalam setiap pengalaman berkunjung, ternyata selalu ada satu momen yang aku simpan, dan kadang muncul lagi di saat-saat yang aku butuhkan ketika aku sudah dewasa. momen-momen yang jujur, dan tenang, dan menyenangkan. seperti berada di dalam filem-filem hayao miyazaki, dengan warna-warnanya yang jujur: merah. biru. hijau. kuning..

semua itu adalah memori berada di luar rumah dan menjauh dari orang-orang dewasa. seperti ketika berkunjung ke rumah pakde, dan siang-siang yang panas aku dan sepupuku jalan-kaki ke warung untuk jajan bola permen karet. rasa sakit di pipi yang terkena sinar matahari, rasa empuk di kaki menginjak sandal jepit sepupuku yang aku pinjam, rasa permen bola yang terlalu besar & terlalu manis di lidahku itu masih aku ingat sampai sekarang. bahkan aku ingat bagaimana rasa partikel udara yang masuk ke dalam hidungku, warna dan tekstur jalan, bentuk warna bau suara pagar yang catnya sudah mengelupas, wangi barang-barang di warung, suara aku membuka tutup toples, dan rasa di badan pada saat itu yang bercampur dengan janggal dan membingungkan:

aku ingin waktu berhenti di sini. tapi saat ini ada di dalam pengalaman yang aku ingin cepat berlalu. jadi aku ingin pergi dari sini atau tidak? 

oase. momen aku sampai pada sebuah oase.

dan aku baru menyadari ada banyakkk sekali momen seperti itu dalam hidupku. 

sangat menyedihkan ya, ketika yang berkesan dari pertemuan dengan seseorang justru, saat kamu tidak sedang berada bersamanya. karena memori pertemuannya tidak pernah seberharga itu. 

ternyata dari dulu aku sudah tidak suka menyimpan barang palsu.