Sunday, February 19, 2023

...

aku mencatat hari ini, karena aku ingin selalu menyimpannya di dalam hatiku.

di hari ulang taun ibuku, dua hari setelah kematian nobita, sembilan hari setelah kepergian poyo, tiga belas tahun setelah kematian mak-ku, empat hari sebelum ulang tahunku yang ke tiga puluh sembilan, akhirnya aku mengerti satu hal yang sudah sejak lama coba kamu sampaikan kepadaku. waktu mendengarnya pertama kali di suatu pagi, aku menangis hingga dadaku terasa sesak meskipun aku tidak mengerti satupun yang kamu katakan. mungkin waktu itu jiwaku sudah bisa menerima meski ragaku menolaknya.

sekarang aku mengerti.

bahwa aku dicintai.

aku dilindungi.

aku tidak pernah sendirian.

aku mampu.

aku berharga.

dan aku cukup.

meski kesadaran ini harus dibayar dengan harga yang sangat mahal (karena aku terlalu sibuk melawan dan menolaknya), hari ini aku bersimpuh di hadapanmu. kuletakkan hatiku yang hancur lebur di atas tanah, & aku bersujud sedalam-dalamnya. aku terima cintamu. kasih sayangmu. perlindunganmu. dan aku terima pemberianmu dengan rasa syukur. semoga aku bisa merawat pemberian berharga ini dengan sebaik-baiknya.

terima kasih sudah mempercayaiku.

Monday, February 13, 2023

kutu buku

semakin banyak belajar tu kenapa ya kok malah makin bikin merasa diri sendiri (ternyata) bodoh :)) aku kira semakin banyak belajar aku akan merasa semakin pintar & percaya diri. ternyata justru aku malah jadi nemu banyak hal yang aku nggak tau & nggak ngerti. trus yang kulakukan di masa lalu itu ternyata banyak yang salah. yang pernah aku tulis tulis di blog, yang aku ketik ketik di twit, di status-status fb, di komentar-komentar ig, bahkan yang pernah aku bilang ke teman, adek, mama, la kok salah semua?! (ada yang bener juga sih, cuma kayaknya lebih banyak salahnya). OMG semua orang liat aku melakukan kebodohan dan bisa membaca bukti-bukti kebodohanku, dong?! 💀💀💀 udah gitu, makin ke sini, jarak antara melakukan kesalahan dan menyadari melakukan kesalahannya jadi semakin dekat. aaaaaakkk.

kadang saking frustasinya, aku suka bertanya-tanya sama tuhan, kenapa sih, aku nggak dibikin pinter aja dari lahir? jadinya kan sekarang aku nggak perlu repot menanggung malu (dan menanggung akibat dari kebodohanku di masa lalu)? 💀💀💀

yang aku tanya tuhan, yang jawab malah basuki. kata dia kalau aku pinter dari dulu, makin nggak ada yang mau sama aku. hahahahahah.

aku tau itu nggak bener. mon maaf ya, tapi dari dulu aku lumayan laku (menyamakan diri sendiri dengan komoditas ☠️) tapi aku pikir-pikir memang ada benernya juga, dia.

tapi karena aku kesel dia ngomong gitu, aku bilang sama dia: "ya kan di dunia ini ada juga laki-laki dewasa - yang nggak terintimidasi sama perempuan pinter"

trus dia: "kamu mau cari di manaaa cowo kayak gitutu?"

aku jawab: "aku nggak nyari cowo. dari dulu juga nggak perlu." 


👀☠️ðŸŠĶ

kita temenan aja, ya

kapan lalu aku baca buku school of life yang judulnya how to find the right words. a guide to delivering life's most awkward messages. bab pertamanya adalah: i want us just to be friends. wuu menarik sekali, bukan? sebagai manusia yang pernah nangis-nangis 2 hari hanya karena bingung mesti nolak cowok padahal juga dia belum nembak (dia baru ngomong 2 taun setelah aku nangis-nangis itu) & berbagai pengalaman tidak menyenangkan lainnya, sepertinya penting sekali aku mengetahui informasi ini. karena selama ini orang-orang sepertinya nggak ada yang paham penderitaan orang yang mesti nolak cinta yang bahkan belum dikasihin. rasanya kayak orang kurang waras, tau nggak sih. tapi mana ada yang percaya, ya kan. coba dipikirin aja, gimana kepingin ngembaliin sesuatu yang belum dikasihin itu nggak bikin kamu gila? apalagi kalau sebetulnya kamu sayang sama orang itu.

awalnya di buku ini dia bilang begini: "it's never easy to be rejected but it's arguably a great deal worse to have to reject." wuih, akhirnya ada yang ngerti juga, kubilang.

tapi trus dia bilang: "it's profoundly tempting to say nothing ... but such ambiguity merely prolongs the torture. you have the agency, maturity, and responsibility to bring this to an end." terus terang, sebetulnya pemikiran seperti ini yang selama ini aku percaya juga. yang membuat aku semakin menyalah-nyalahkan diri sendiri. kalau aku sayang sama dia, mestinya aku begini begitu dll dst dsb. kadang aku bahkan nuduh-nuduh diri sendiri kalau aku ini cuma takut kalau nanti aku bilang "kita temenan aja ya," dia jawabnya: "loh, selama ini kita memang teman, kan?" ðŸ’€ðŸ’€ðŸ’€ðŸ’€ðŸ’€ðŸ’€ðŸ’€

tapi ternyata setelah aku membaca jalan pikiranku sendiri melalui tulisan orang lain begini, justru aku bisa menemukan betapa anehnya cara berpikir seperti ini. 

selain karena si penulis ini terlalu berlebihan menuntut diri sendiri bertanggung jawab untuk sesuatu yang sebetulnya bukan tanggung jawabnya dia, di saat yang bersamaan orang ini juga mengambil hak orang lain nggak, sih? ini tu aku bacanya jadi: ada orang mau ngomong, dia belum ngomong, tapi udah kamu suruh diem. apa boleh kayak gitu, tu??!!

udahlah terserah school of life mau nulis apa. tapi aku mau stop kebiasaan buruk suka ambil-ambilin tanggung jawab orang lain & menyalah-nyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang jelas bukan urusanku.

selain itu aku juga nggak mau lagi memperlakukan orang lain seperti bocah. apalagi kalau aku sayang, aku semestinya percaya kalau dia bisa menyelesaikan urusannya sendiri layaknya manusia dewasa.