Tuesday, October 29, 2019

resolusi akhir tahun

hidup sampai umur 35 tahun, rasa-rasanya aku tidak pernah benar-benar membuat resolusi awal tahun. 🙈 ya kayaknya dulu pernah sih, pas sekolah satu dua kali bikin daftar. tapi cuma karena semua orang di dunia ini bikin, & aku nggak mau jadi beda sendiri. tapi nggak pernah bener-bener ngerti gitu lo, apa sih resolusi & apa gunanya.

ini sudah di akhir bulan ke sepuluh di tahun ini, dan hari ini aku memutuskan untuk membuat daftar. tidak seperti resolusi awal tahun yang kubuat ketika masih sekolah, resolusi kali ini lebih berfungsi sebagai pengingat daripada menjadi target, dan berlaku untuk seumur hidup, setidaknya sampai akhirnya nanti aku menemukan bahwa resolusi ini sudah tidak relevan lagi. karena dalam perjalanan ini, kita pasti akan selalu menemui kesadaran-kesadaran baru.


sebisa mungkin, sebanyak mungkin, aku akan berusaha untuk:

1.
menomor satukan aku.

2.
berhenti bercita-cita menjadi manusia yang sempurna.

3.
berhenti berusaha membuat kamu jatuh cinta sama aku.

4.
memilih.
dengan sadar.

5.
menerima seluruhnya.
konsekuensi atas pilihan-pilihanku.

6.
kalau aku bilang tidak, berarti tidak.

7.
kalau aku bilang iya, berarti iya.

8.
mendengarkan kata hatiku.

9.
mendengarkan badanku.

10.
mempercayai hasil pemikiranku sendiri.

11.
berhenti menjelaskan tentang diriku.

12.
mendapatkan yang aku inginkan.

13.
menerima.
dengan sebaik-baiknya segala rasa yang memang harus aku rasakan.

14.
bebas merasakan yang aku rasakan,
karena untuk merasakan hal tertentu,
aku tidak membutuhkan validasi dari orang lain.

15.
bilang.
apa yang aku mau,
apa yang aku rasakan,
apa yang aku pikirkan.
yang sebenar-benarnya.
atau diam.

16.
melakukan segala sesuatu dalam waktuku sendiri.

17.
berhenti membandingkan diriku sendiri dengan orang lain.

18.
berhenti berusaha untuk menjadi sama dengan orang lain.

19.
bertanya pada diri sendiri: "saat ini kamu sedang merasakan apa?"

20.
bertanya pada diri sendiri: "kamu butuh apa?"

21.
bertanya pada diri sendiri:"kamu inginnya bagaimana?"

22.
berhenti sebentar
(atau lama),
lalu merespon
(atau tidak merespon).

23.
bikin salah.
daripada nggak bikin apa-apa.

24.
bilang sama diri sendiri: "nggak apa-apa, kok."

25.
membiarkan kamu hidup dengan pilihan-pilihanmu.

27.
lebih sabar, sabar, sabar, sayang, dengan diri sendiri.

28.
berterima kasih.




daftar ini akan terus bertambah dan berubah. semoga panjang umur.



Tuesday, October 8, 2019

REKOMENDASI BUKU untuk 2019 #4

langsung ya, mumpung sedang ada niat untuk menulis, (& sebetulnya sih ini aku memang lagi procrastinating karena harusnya ada hal yang lebih penting & mendesak untuk dilakukan, yaitu BALAS EMAIL, tapi malaaaaaaas banget ya allah), mari dimanfaatkan untuk nulis aja lah daripada ngelamun jorok.

BUKU 4:

judul: 13 things mentally strong people don't do

penulis: amy morin
jenis: self help
tahun terbit: 2017
penerbit: harper collins
isbn: 9780062358301
jumlah halaman: 275

amy morin ini adalah seorang terapis di sebuah community mental health center, tapi dia menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya ketika dia sedang dalam proses bangkit setelah mengalami tragedi berulang-ulang dalam hidupnya. di halaman awal aku baca buku ini, aku sempat "loh, kok kayaknya aku pernah baca cerita ini, sih." ternyata aku memang pernah nonton ted talknya dia di youtube. nonton dulu aja kalau kamu mau tau penulisnya ini orangnya seperti apa.

ini adalah salah satu buku yang aku paling cepat bacanya, karena gaya menulisnya yang sangat jelas & runut sekali. walaupun singkat, tapi jangan tanya rasanya membaca ini. uh, kayak dirudal hati ini berkali-kali. gitu kan ya rasanya, kalau kamu akhirnya menyadari keadaan diri sendiri yang ternyata jauh dari ekspektasi. hahaha.

jadi tu, aku selama ini berpikir kalau aku ini adalah orang dengan mental yang lumayan kuat. apalagi kalau dibandingkan dengan orang-orang yang aku temui sehari-hari. aku cenderung positif dalam menghadapi berbagai persoalan & bahkan biasanya berhasil mengubah tragedi jadi lelucon, atau mengubah sesuatu yang berat menjadi sesuatu yang ringan & 'bisa lah ini aku tangani sendiri.' intinya, aku tu enggak manja & mandiri. jadi pasti aku termasuk manusia kuat nih. kupikir, kan.

eeehhh...

ya memang seharusnya kita tu jadi orang jangan suka banding-bandingin diri sendiri sama orang lain, tapi bandingkanlah diri sendiri dengan dirimu sendiri di masa lalu, udah ada peningkatan apa belum yaaa ini. atau masih gitu-gitu aja, atau malah bablas makin parah.

trooooos, apaka kamu sudah tau jika:

- mempunyai mental yang kuat itu bukan berarti menjadi manusia yang selalu berpikiran positif, tapi bagaimana menjadi manusia yang berpikir realistis & rasional.

- ini juga bukan tentang terlihat kuat di hadapan orang lain, tapi bagaimana kamu bisa bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang kamu percayai.

- memiliki mental yang kuat itu juga bukan berarti kamu trus jadi mengabaikan atau menekan perasaan & emosimu sendiri, tapi justru bagaimana kamu bisa selalu aware dengan apa yang sedang kamu rasakan, & menyadari bagaimana emosi-emosi tersebut mempengaruhi pemikiran & tindakanmu.

- memiliki mental yang kuat itu bukan tentang kamu harus memaksa badanmu untuk sampai pada limitnya & mengabaikan rasa sakit, tapi justru kemampuan untuk membaca sinyal yang diberikan oleh badanmu.

- ketika kamu memiliki mental yang yang kuat, bukan berarti kamu udah nggak butuh lagi pertolongan orang lain, tapi malah justru sebaliknya. kamu sadar sepenuhnya kalau dalam hidup ini, kamutu enggak mungkin punya jawaban atas segala sesuatu, & pada suatu saat, kamu pasti butuh pertolongan dari orang lain.

-meningkatkan kekuatan mental itu bukan tentang mengejar kebahagiaan dalam hidup, tapi tentang bagaimana kamu bisa mengambil keputusan-keputusan yang baik untuk dirimu sendiri.

- kekuatan mental tyda sama dengan kesehatan mental.

setelah baca beberapa poin di atas aja langsung ketauan kalau waooow ternyata banyak pengertianku tentang kekuatan mental yang ternyata salah, & iyaya, aku nggak sekuat itu. ternyata.

berikut 13 daftarnya, dan diagnosisku terhadap diriku sendiri, dimulai dari yang skornya paling bagus (berdasarkan menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam buku tersebut)

fenty yang lumayan bagus skornya:
1. they don't fear alone time
2. they don't waste time feeling sorry for themselves.
3. they don't feel the world owes them anything
4. they don't give up after the first failure
5. they don't dwell on the past

fenty yang nggak terlalu bagus skornya:
6. they don't expect immediate results
7. they don't resent other people success
8. they don't make mistake over and over
9. they don't shy away from change

fenty, yang wow ternyata aku begini ya, kok nggak sadar selama ini:
10. they don't worry about pleasing everyone
11. they don't give away their power
12. they don't fear taking calculated risks
13. they don't focus on the things they can't control

nah baca buku ini tu jadi ngeh gitu lo, hal-hal yang selama ini sebenarnya aku udah sadar kalau ini memang kekuranganku, tapi aku nggak menduga kalau ternyata itu ada hubungannya dengan kekuatan mental, & sebesar itu ternyata mereka menghambat aku untuk mendapatkan sesuatu yang aku mau. DAN, baru sadar juga ternyata kekurangan-kekurangan ini BISA diubah & dilatih kalau aku mau, (karena mereka bukan sakit mental).

aku memang sengaja bikin urutan, supaya aku bisa fokus naik-naikin skor yang aku masih kurang-kurang banget (nomer 10-13). aku selesein baca buku ini kemarin bulan juli, dan pas aku nulis ini di bulan oktober, aku merasa aku udah ada peningkatan lo di beberapa poin, trus rasanya waaaa seneng yaaa. hihihi. mungkin beberapa bulan lagi aku harus ulang baca buku ini untuk ngecek lagi kalau-kalau ada yang kelupaan.

quotenya aku pili yang rada umum aja ya:

developing mental strength isn't about having to be the best at everything. instead, developing mental strength means knowing that you'll be okay no matter what happens. you'll be best prepared for whatever circumstances you encounter when you're mentally strong. not only will you be ready to deal with the realities of life, but you'll be able to live according to your values no matter what life throws you away. 

when you become mentally strong, you will be your best self, have the courage to do what's right, and develop a true comfort with who you are, and what you are capable of achieving.


baca rekomendasi buku sebelumnya di sini.


REKOMENDASI BUKU untuk 2019 #3

haee..

selamat datang di rekomendasi buku untuk 2019 ke 3. gimana ya, kepingin ketawa akutu. ini udah bulan oktober, jadi mestinya memang udahlah judulnya aku ilangin aja ya, taunnya. hahaha. gila ya aku udah aim low 6 buku, tetep aja nggak kekejar lo. semoga target baca 40 buku setaun akan lebih baik. masih 3 bulan, aku masih kurang 11 buku lagi.

bisa lah, ya..

bisa nggak, ya..

hahaha..

oke.

BUKU 3:

judul: the boy who was raised as a dog. and other stories from a child psychiatrist's notebook. what traumatized children can teach us about loss, love, and healing.

penulis: bruce d. perry, md, phd & maia szalavitz
jenis: psychology
tahun terbit: 2017 (revised & updated edition)
penerbit: basic books
isbn: 0465094457
jumlah halaman: 418

hmm. buku nonfiksi, lagi. psikologi, lagi. bahkan sekarang ini tu yang di pikiranku mau aku jadiin rekomendasi buku ke 4 juga buku psikologi, lo. ini apa karena aku pernah kepingin jadi sarjana psikologi nggak kesampaian, apa gimana.. nggak ngerti juga.

oke fokus, fen.

jadi, buku ini tu berisi kisah-kisah nyata tentang pasien-pasien yang pernah ditangani oleh penulisnya, dr perry. dr perry adalah seorang dokter psikiatri anak, dengan spesialisasi menangani anak-anak yang mengalami trauma berat, seperti misalnya mengalami perkosaan, penyiksaan, atau anak yang menyaksikan orang tuanya dibunuh.

uh.

ya. UH.
jadi kalau kamu nggak kuat baca cerita 'sadis' semacam ini, yaudah ini buku bukan buat kamu. atau disarankan juga sebetulnya, baca buku ini jangan langsung dihabisin gitu, tapi di-pause-pause, atau mungkin disambil-sambil baca buku lain aja. ya walaupun seperti bisa diduga, aku bacanya nggak bisa berhenti, sampai pada satu bab ketika aku baca buku ini, aku muntah-muntah.

aku ingat, waktu baca buku ini aku baru kepikir, ternyata bisa ya, hati dipatahkan berkali-kali oleh sebuah buku :( walaupun begitu, kalau kamu bisa, BACA BUKU INI.

menurut aku, buku ini betul-betul buku yang penting. terutama untuk kamu yang hidup, atau berencana untuk hidup di sekitar anak-anak. untuk aku, manusia dewasa yang tidak hidup bersama anak kecil pun, buku ini membantu aku untuk lebih mengerti tentang diri sendiri dan orang lain dengan lebih baik. karena kan semua orang dewasa, dulunya pasti pernah menjadi anak-anak.

melalui buku ini, aku juga baru sadar betapa berpengaruhnya masa-masa kehidupan manusia sejak dari lahir, bayi & balita, terhadap kehidupan kita, & pilihan-pilihan yang kita ambil setelah kita dewasa. buku ini juga menggaris bawahi pentingnya kehadiran orang dewasa pada masa-masa itu. aku juga jadi mengerti bahwa ternyata pengaruh trauma ketika manusia masih pada usia tersebut, akan berdampak jauuuh lebih besar daripada apabila trauma terjadi ketika kita sudah dewasa.

banyak quote yang penting, tapi aku salin yang ini aja:

for years, mental health professionals taught people they could be psychologically healthy without social support, that "unless you love yourself, no one else will love you." women were told that they didn't need men, and vice versa. people without any relationships were believed to be as healthy as those who had many. 

these ideas contradict the fundamental biology of human species: we are social mammals and could never have survived without deeply interconnected and interdependent human contact. the truth is, you cannot love yourself unless you have been loved and are loved. the capacity to love cannot be built in isolation.

selamat membaca!


baca rekomendasi buku #2 di sini