Wednesday, January 26, 2022

matrix (iii)

baik. kalau di dunia ini hanya ada manusia yang tau dan manusia yang tidak tau, berapakah harga yang harus dibayar untuk menjadi tau?

dulu aku kira aku tidak akan sanggup membayar harga ketidak tauan. jadi aku memilih untuk tau, dan menyanggupi untuk membayarnya berapapun harganya. 

dulu aku memilih hidup. 

saat ini aku sampai pada titik di mana aku berpikir aku tidak mampu lagi membayarnya. aku tidak tau bagaimana caranya hidup. apakah dulu aku semestinya pilih telan pil biru saja? orang tidak akan menderita selama dia tidak tau dia menderita.

..

lalu di mana tempatnya orang-orang seperti aku; yang tidak berani hidup, tapi tidak sanggup mati?



Friday, January 21, 2022

ignorant (ii)

aku pikir-pikir lagi, sebetulnya di dunia ini tidak ada ya, orang jahat dan orang baik. yang ada itu orang yang tau, dan orang yang tidak tau. sepertinya jadi jauh lebih sederhana, tapi enggak juga. karena untuk membuat orang yang tidak tau jadi tau, tidak sesederhana itu. karena mungkin kita semua tidak mau tau dalam hal-hal tertentu.

ya gimana bisa jadi manusia yang tau, kalau tidak mau tau, kan?

Wednesday, January 12, 2022

manusia setengah-setengah (i)

mau jadi orang baik, enggak mampu.

mau jadi orang jahat, enggak berani.


Friday, January 7, 2022

oase

dari dulu aku adalah anak yang aneh dan tidak suka basa basi. padahal ketika berkunjung ke rumah saudara, aku melihat orang-orang dewasa suka sekali berpura-pura peduli, sangat senang berpura-pura hidupnya normal, dan selalu berpura-pura bahagia telah dikunjungi dan mengunjungi. itu kenapa aku dulu sangat tidak suka saat berkunjung ke rumah simbah, pakde, bude. aku selalu cemas dari beberapa hari sebelumnya, & ketika tiba saatnya, aku ingin semuanya cepat berlalu. (meskipun saat itu aku tampak sebagai kebanggaan keluarga sekalipun: anak yang sopan, pintar, berprestasi, ranking 1, sekolah di sekolah favorit dll dsb dst - bukan anak yang belum punya rumah, belum punya anak & tidak jelas pekerjaannya apa. hahahah)

tapi di dalam setiap pengalaman berkunjung, ternyata selalu ada satu momen yang aku simpan, dan kadang muncul lagi di saat-saat yang aku butuhkan ketika aku sudah dewasa. momen-momen yang jujur, dan tenang, dan menyenangkan. seperti berada di dalam filem-filem hayao miyazaki, dengan warna-warnanya yang jujur: merah. biru. hijau. kuning..

semua itu adalah memori berada di luar rumah dan menjauh dari orang-orang dewasa. seperti ketika berkunjung ke rumah pakde, dan siang-siang yang panas aku dan sepupuku jalan-kaki ke warung untuk jajan bola permen karet. rasa sakit di pipi yang terkena sinar matahari, rasa empuk di kaki menginjak sandal jepit sepupuku yang aku pinjam, rasa permen bola yang terlalu besar & terlalu manis di lidahku itu masih aku ingat sampai sekarang. bahkan aku ingat bagaimana rasa partikel udara yang masuk ke dalam hidungku, warna dan tekstur jalan, bentuk warna bau suara pagar yang catnya sudah mengelupas, wangi barang-barang di warung, suara aku membuka tutup toples, dan rasa di badan pada saat itu yang bercampur dengan janggal dan membingungkan:

aku ingin waktu berhenti di sini. tapi saat ini ada di dalam pengalaman yang aku ingin cepat berlalu. jadi aku ingin pergi dari sini atau tidak? 

oase. momen aku sampai pada sebuah oase.

dan aku baru menyadari ada banyakkk sekali momen seperti itu dalam hidupku. 

sangat menyedihkan ya, ketika yang berkesan dari pertemuan dengan seseorang justru, saat kamu tidak sedang berada bersamanya. karena memori pertemuannya tidak pernah seberharga itu. 

ternyata dari dulu aku sudah tidak suka menyimpan barang palsu.

Monday, January 3, 2022

YO WIS NEK KOWE RA DONG, RAPOPO. AKU TAK MINGGIR SIK.

tulisan yang akan selalu aku salin setiap kali aku berusaha menjelaskan tentang diriku sendiri ke orang yang committed to miss-understanding me. semoga taun ini tahun terakhir lah, ya, aku nyalin-nyalin quote ini. plis lah ah, bismillah.

"this is why you struggle with self-love. because you're constantly putting yourself in a position you'll be seen as more valuable. YOU ARE VALUABLE SIMPLY BECAUSE YOU EXIST. and for that reason, love, YOU DESERVE TO BE HEARD. feel that. and if you can't, it's because you have to keep disconnecting from yourself in order to defend your position with people who are committed to miss-understanding you.

when you entertain their drama, you validate their position & thus that you are not worthy of standing ten toes deep on yours. FALL BACK AND LEARN TO SAY OK, instead of writing that long paragraph or going on yet another diatribe. they often know the truth, but know that you will allow them to question it. 

WE ARE NOT DOING THIS ANYMORE."


@lovingmeafterwe

Sunday, January 2, 2022

ekstra

2022.
kali ini aku aku akan benar-benar berhenti menjelaskan tentang diriku sendiri kepada orang-orang yang tidak bertanya.

contoh orang yang bertanya:











BUKAN contoh orang bertanya:

orang yang mengira dirinya sedang bertanya: "kamu masih sedih?"

aku: "iya"

orang yang mengira dirinya sedang bertanya: "jangan sedih, lah"


orang-orang yang mengira dirinya sedang bertanya adalah:

✔ orang baik

✔ orang yang peduli

✔ orang yang memiliki niat yang baik

✖ aku butuhkan

..

manusia-manusia well intention adalah manusia-manusia baik. hanya saja mereka tidak dibutuhkan. aku dulu (atau sampai sekarang juga, kalau sedang khilaf), adalah manusia well intention, jadi aku tau betapa besar keinginan untuk 'membantu' itu. sampai aku sadar kemudian, ternyata aku bukan ingin membantu, tapi sebetulnya aku sendiri yang tidak tahan dengan: kesedihan. kemarahan. kekecewaan. konflik. intinya, aku tidak mau terlibat dengan emosi manusia. terlalu berat, terlalu intens buat aku. please make it stop.

kenapa manusia bisa tidak tahan dengan emosi (yang adalah bagian dari menjadi manusia?) ya karena terbiasa saja. sejak kecil tertanam di benaknya kalau kekecewaan, kesedihan, kemarahan, konflik, adalah buah dari "kesalahan." yang mana kesalahan itu sebisa mungkin dicegah, dihindari, diperbaiki. segera. karena melakukan kesalahan itu salah. mungkin itu benar. tapi apakah ada, di dunia ini manusia (nabi termasuk) yang tidak pernah melakukan kesalahan? melakukan "kesalahan" adalah takdir menjadi manusia. seperti juga manusia ditakdirkan bisa sedih. bisa marah. bisa kecewa. jadi ya sedih itu tidak apa-apa. marah tidak apa-apa. kecewa tidak apa-apa. konflik tidak apa-apa. salah tidak apa-apa. karena bukan itu intinya.

emosi itu ada hanya untuk menyampaikan pesan. kurir. jadi kalo isi paketmu kurang atau salah, jangan mas-mas jne yang kamu maki-maki, gaes.

..

mamaku itu mungkin contoh yang tepat untuk menggambarkan manusia well intention = manusia yang bingung dengan emosinya sendiri . waktu adekku patah hati & mengurung diri di kamar - sebetulnya lebih tepat disebut sebagai tidur-tiduran di atas kasur sambil mendengarkan lagu sedih seperti remaja normal yang baru diputusin (catatan penting: baru juga hari pertama dia putus sama pacarnya), mamaku sudah bingung sekali. "aduh gimana itu adekmu dengerin lagu sedih terus, aku mau ajak papamu ke sensei untuk nanyain tentang adekmu." (bukannya tanya langsung ke orangnya, malah tanya ke sensei yg mesti bayar 250 ribu. hadeh). kalau mamaku baca ini pasti doi jawab: "ya gimana mau tanya anaknya langsung, dia selalu jawab gapapa, gapapa." YA IYALAH, BOS. kalau nanti dia jawab jujur: "aku sedih" paling-paling bakal disaut: "jangan sedih"

jangan tanya gimana mamaku tiap aku putus sama pacar, siapa yang nangis sampai matanya bengkak? YA MAMAKU. padahal aku yang putus cinta, bahkan aku yang mutusin, bukannya aku yg diputusin, lo. ya allah..

dan dulu aku menganggap itu hal yang baik. hati ibu, terhubung erat dengan hati anaknya. "kalau hati anaknya sakit, hati ibu itu ikut sakit!" begitu kata mamaku selalu.

baik. 

tapi apakah perlu?


..

kalau setelah kamu baca tulisan panjang ini kamu masih: "kamu sih, belum pernah tau rasanya jadi ibu.", berarti kamu belum dapat inti dari tulisan ini.

gimana kalau kamu baca lagi tulisanku pada 12 oktober 2020 ini?  tapi kalau habis itu masih tetep bingung ya sudah. berarti aku yang mesti baca lagi tulisanku di awal entry ini:


2022.

kali ini aku aku akan benar-benar berhenti menjelaskan tentang diriku sendiri kepada orang-orang yang tidak bertanya.

satu-satunya yang ke tiga (bagian dua)

baca dulu bagian satu di sini.

..

manohara tidak pernah datang-datang lagi. tapi aku jadi jauh lebih sering melihat kucing. aku bilang sama basuki: "kok sekarang di kompleks ini jadi ada banyak kucing, ya?" basuki jawab: "loh dari dulu ya udah banyak." "OYAAA?!" aku pikir, berarti mungkin sebetulnya bukan selama ini tidak ada kucing di sekitarku, tapi aku yang memutuskan untuk tidak melihat mereka.

aku juga jadi jauh lebih sering melihat kucing liar di tempat-tempat lain, seperti misalnya di stasiun krl. di masa-masa sebelum pandemi itu, aku sedang suka sekali main sendirian naik kereta & wfs (work from sebuahtempatlucu 😐) yang berbeda-beda setiap hari selasa. jadinya kadang aku bawa makanan kucing untuk kucing-kucing yang aku temui di stasiun. aku melihat hubunganku dengan kucing juga membaik. aku tidak lagi merasa bertanggung jawab terhadap kucing liar, meskipun aku peduli terhadap mereka. aku mulai belajar membuat boundaries untuk diriku sendiri. 

saat itu juga kebetulan aku sedang belajar bercocok tanam. untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa sebagai manusia, ternyata akarku sangat lemah, kecil, dan mudah patah. itu kenapa aku sangat mudah terombang ambing. aku pikir mungkin dengan belajar menanam, menumbuhkan sesuatu, bisa jadi salah satu caraku juga untuk menguatkan akar jiwaku sendiri. aku rasa mungkin itu juga kenapa selama ini, setiap aku mencoba menanam tanaman apapun, tanaman itu selalu mati karena bermasalah di bagian akarnya.

jadilah aku mulai belajar menanam sayuran di halaman belakang rumah. selama berbulan-bulan belajar menanam dengan berbagai cara gagal terus. bahkan setelah berhasil menumbuhkan berbagai sayur pun, enggak pernah bisa sampai panen, karena ketika tanaman sudah mulai besar, selalu saja lalu DIMAKAN TIKUS! aku beli kawat duri, beli buah bintaro, semua gagal. tikus-tikus tetap berhasil memakannya.

..

di masa-masa gagal panen itu, di rumah mulai kedatangan seekor kucing baru yang kemudian aku panggil: bolu. setiap bolu datang, aku kasih dia makan. sampai pada suatu siang aku entah tiba-tiba merasa dapat ide cemerlang dari mana, menawarkan bolu pekerjaan. sebetulnya aku nggak kenal-kenal amat sama bolu. kami bertemu baru tiga kali. tapi di mataku bolu terlihat seperti kucing yang sangat bertanggung jawab & mau bekerja. aku tanya sama dia, "mau nggak kamu, kerja di sini nungguin kebon sayurku? kerjanya mulai matahari tenggelam sampai matahari terbit. bayarannya makan minum sepuasnya & kalau sakit aku kedokterin?" aku perlihatkan kebon kecilku & aku bilang, "kalau kamu mau, datang yaa nanti sore!" lalu dia nyelonong pergi begitu saja. aku pikir, mungkin dia nggak tertarik. atau mungkin aku saja yang sudah gila mikir kucing bisa ngerti aku ngomong masalah tawaran pekerjaan, gaji & jaminan kesehatan.

tanggal sebelas bulan agustus. sore itu mendung sekali, padahal siangnya sangat terik. dan benar bolu datang lagi. tapi dia tidak sendirian. dia membawa anak-anaknya yang masih bayi. ENAM EKOR. lah ternyata dia ibu-ibu?! dan punya anak enam?! 😭

selesai memasukkan semua anaknya ke dalam gudang, hujan turun deras sekali. wuaaah drama sekali WHY?! gimanaaa iniii.. aku kebingungan harus bagaimana. tidak mungkin kan, sudah mulai gelap, mana sedang hujan deras begini aku usir ibu-ibu beranak enam YANG DATANG KARENA TADI AKU SENDIRI YANG SURUH DIA DATANG?! dia datang bawa anak-anaknya, ya iyalah kan dia ibu-ibu?! ya gimanaa aku bahkan nggak tau bedanya kucing jantan sama betina. apalagi membedakan apa betina ini sedang hamil atau menyusui atau enggak.. trus aku main kasih kerjaan aja ke dia. huhuhu. mana aku belum bilang basuki tentang bakal ada kucing tinggal di rumah, apalagi sekaligus tujuh. bagaimanaaa iniii. benar-benar tidak habis pikir sama diri sendiri. "kenapa sih feeen kok kamu tu ideee banget sukanya cari-cari masalah ajaaa." 🙈


(bersambung)

Saturday, January 1, 2022

day 2

hari ke dua tanpa orin. dari kemarin rasanya seperti ingin muntah, tapi seperti perut nggak ada isinya. aku bertanya pada diri sendiri apa aku sedang lapar? tapi aku ingat kalau baru saja sejam yang lalu aku makan nasi padang nasinya seperempat. 

aku berhenti sebentar untuk merasakan aku ini sebetulnya sedang merasa apa? apa benar aku lapar? aku menggambarkannya ke basuki sebagai: :"bukan lapar. tapi rasanya seperti tiba-tiba ada lubang besar di dalam dadaku yang ingin aku isi." kata basuki tiap hari dia merasa begitu. aku bilang "loh menderita sekali kamu, aku merasa begini cuma ketika patah hati." sekelebat aku ingat sampul buku deepak chopra: what are you hungry for, yang aku cuma baca isinya sampai mungkin halaman tiga. aku berpikir, apa mungkin isi bukunya tentang ini?

aku ngantuk dan capek sekali. tapi aku takut untuk tidur. selama ini aku selalu membanggakan diriku sebagai manusia yang mudah tidur dalam keadaan apapun, tapi nyatanya sekarang aku takut tidur. aku takut tidur karena aku takut menghadapi saat-saat sebelum tidur, dan saat-saat setelah bangun tidur. sebelum tidur rasanya tersiksa sekali karena pikiranku ke sana kemari berusaha mengingat semua yang terjadi dan memikirkan segala kemungkinan: apa yang sebetulnya terjadi kemarin? apakah kalau kemarin aku mengubah ini dan itu, hari ini orin akan masih hidup? lalu aku dilanda perasaan bersalah yang sangat besar. apakah seharusnya aku kemarin begini begitu? apakah karena salahku dia mati?

sesaat setelah bangun tidur tidak kalah menyiksa. rasanya seperti mesti mengulang lagi saat pertama kali mengetahui orin sudah mati. uh sakitnya tak tertahankan.

basuki terus-terusan bilang aku mestinya coba tidur aja. aku akhirnya mencoba tidur tapi ya tentu tidak bisa padahal sebenarnya ngantuk sekali. basuki tertawa melihat aku yang diam saja, dia kira aku sedang tidur, tapi ternyata mataku melotot. akhirnya aku memilih menghabiskan waktuku untuk menggugat tuhan. 😂

aku protes kenapa tuhan menciptakan aku dengan spek minimal, tapi dia kasih aku soal susah-susah banget terus-terusan. apa dia lupa spek ku itu seperti apa? atau ini cuma karena salah input data? tapi masa tuhan kok bikin salah? aku nggak ngerti. aku ini manusia sangat biasa saja yang sedang mati-matian belajar jadi manusia baik-baik, kenapaaa deh ya allah dicobain melulu. tu liat manusia bangsat sombong psikopat, bisa leluasa sampai TIGA KALI BUNUH KUCING di lingkungan rumahnya dan sampai sekarang nggak ada konsekuensinya itu gimanaaaaaaa itungannyaaa ya allah.

...

kata gus baha, manusia paling bahagia di dunia adalah manusia yang tidak pernah menggugat tuhan. lo ya jelas. orang itu tidak menggugat tuhan kan KARENA DIA SUDAH BAHAGIA. kalau udah bahagia masih menggugat tuhan itu namanya manusia serakah.

tapi setelah aku pikir-pikir lagi. lo ya aku dong, manusia yang serakah itu? aku udah dipinjemin orin dua tahun, bukannya makasih, yang punya mau ambil lagi miliknya kan ya mestinya aku serahkan dengan suka cita. terima kasih ya allah aku udah dipinjemi kucing terbaik di dunia. selama dua tahun ini aku mendapat banyak sekali berkah melalui dia. aku menerima perpisahan dengannya, seperti aku menerima engkau pertemukan aku dengannya. - bukannya: "KENAPAAA YA ALLAAAAH KOK KAMU AMBIL LAGI MILIKMU YANG UDAH KAMU PINJEMIIIN?" nyamuk-nyamuk yang lihat aku begitu pun bisa-bisa nyautin: "ya suka-suka dia, lah!" sambil menepuk jidat mereka masing-masing.

padahal tu kemarin aku otomatisasinya oke banget lo. pertama tau orin mati, aku gendong dia dengan tenang. bilang sama basuki: "udah sana kamu berangkat meeting dulu, i got this." aku sempat line dia, bermaksud memastikan dia baik-baik saja, nggak panik di jalan. 

aku juga tau kematian ini berarti takdirku sama orin di sini cuma sampai saat ini. bahkan waktu teman-temanku marah ada manusia pembunuh kucing, aku bisa bilang: "biarin itu urusannya dia. orin bukan punyaku. biarin nanti orang itu berurusan dengan pemiliknya orin." (yang jelas-jelas jauh lebih berdaya dari pada aku).

tentu aku juga pernah menggugat tuhan sebelumnya (karena masalah yang lain lagi 😐), dan selalu dijawab: kamu nggak ngerti. aku lebih ngerti. dan kamu hanya bisa berusaha mengerti sampai batas tertentu, itu yang dinamakan menerima takdir sebagai manusia. selanjutnya yang kamu butuh adalah percaya. kecerdasan pikiran bisa membawa kamu jauh, tapi tidak sejauh itu. 

yang begitu itu mungkin ya, yang orang sebut-sebut sebagai surrender..

..

lalu baru hari kedua, sudah ambrol semua gini, ya harap maklum. aku spek imannya kalaupun ada ya cuma tipis. nggak bisa dibandingin sama gus baha.

kalau tuhan, ya sudah tentu seperti biasanya selalu baik sama aku meskipun aku gugat terus. yang aku minta tadi, diberi bahkan sebelum aku selesai menulis entry ini. terima kasih. terima kasih. terima kasih. lain kali aku pasti minta-minta lagi.