Wednesday, April 9, 2014
seekor kucing bernama truli
aku rela serahkan nyawaku untukmu.
semua kesembilansembilannya kalau kamu mau.
tapi tidak kebebasanku.
Thursday, March 13, 2014
tamiya
dibutuhkan usaha yang keras bagi saya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa hidup itu bukan melulu soal menang dan kalah. dari kecil saya terbiasa berkompetisi dalam segala hal, walaupun hanya dalam imajinasi.
waktu sd, saya selalu mengandaikan; saat ini anak lain sedang belajar, supaya saya belajar. belajar lebih banyak dari anak lain, bahkan dari semua anak dijadikan satu.
wiii gaya pokoknya.
sampai saat ini, saya harus berkompetisi juga supaya semua pekerjaan bisa selesai. mengandaikan orang lain sedang melakukan sesuatu (yang harus saya lakukan), lalu saya harus melakukan sesuatu itu dengan lebih baik. lebih banyak.
saat ini dia lagi cuci piring. aku juga mau cuci piring lebih banyak. lebih bersih. lebih cepet.
hahahaha
ada teman yang jagoan, nantangin main pokopang. saya nggak berhenti sampai ngalahin dia. lalu jadi rangking satu. kalau udah rangking satu, trus bosan.
ah nggak ada lawannya.
sombooong..
soalnya kalau tidak ada lawan jadi lesu. tidak terpacu. nggak seru.
padahal kan tidak begitu ya..
kadang kita menang,
kadang mengalah untuk menang.
kadang keliatan kalah tapi sebenernya menang
kadang ya kalah aja gitu
hahaha.
tapi mungkin yang lebih bener lagi,
saya rasa, sebetulnya ini bukan tentang menang atau kalah melawan orang lain lo.
tapi tentang diri sendiri yang harus terus bergerak, supaya tidak mati.
---
saya suka kesal deh kalau dibandingkan sama orang lain.
tapi mungkin sebetulnya, sayalah orang yang selalu menilai dan membandingkan.
---
---
setiap orang dilahirkan dengan nomer seri yang berbeda. lintasannya juga berbeda beda. jadi seharusnya saya bisa berhenti membandingkan dan melihat orang lain sebagai lawan.
karena kita memang bukan.
waktu sd, saya selalu mengandaikan; saat ini anak lain sedang belajar, supaya saya belajar. belajar lebih banyak dari anak lain, bahkan dari semua anak dijadikan satu.
wiii gaya pokoknya.
sampai saat ini, saya harus berkompetisi juga supaya semua pekerjaan bisa selesai. mengandaikan orang lain sedang melakukan sesuatu (yang harus saya lakukan), lalu saya harus melakukan sesuatu itu dengan lebih baik. lebih banyak.
saat ini dia lagi cuci piring. aku juga mau cuci piring lebih banyak. lebih bersih. lebih cepet.
hahahaha
ada teman yang jagoan, nantangin main pokopang. saya nggak berhenti sampai ngalahin dia. lalu jadi rangking satu. kalau udah rangking satu, trus bosan.
ah nggak ada lawannya.
sombooong..
soalnya kalau tidak ada lawan jadi lesu. tidak terpacu. nggak seru.
padahal kan tidak begitu ya..
kadang kita menang,
kadang mengalah untuk menang.
kadang keliatan kalah tapi sebenernya menang
kadang ya kalah aja gitu
hahaha.
tapi mungkin yang lebih bener lagi,
saya rasa, sebetulnya ini bukan tentang menang atau kalah melawan orang lain lo.
tapi tentang diri sendiri yang harus terus bergerak, supaya tidak mati.
---
saya suka kesal deh kalau dibandingkan sama orang lain.
tapi mungkin sebetulnya, sayalah orang yang selalu menilai dan membandingkan.
---
"habisnya, kalian udah bisa bikin pesawat terbang, aku masih berburu dan meramu"
kata saya
lalu jawapnya:
"but everyone is fighting some kind of battle, darling.
jadi nggak bisa dibandingin"
---
setiap orang dilahirkan dengan nomer seri yang berbeda. lintasannya juga berbeda beda. jadi seharusnya saya bisa berhenti membandingkan dan melihat orang lain sebagai lawan.
karena kita memang bukan.
Wednesday, March 12, 2014
drama queen
bisa dibilang hidup saya itu penuh dengan tragedi.
mau makan jagung, tragedi
mau scan gambar, tragedi
mau cuci piring, tragedi
mau bikin teh, tragedi tragedi tragedi (3x)
tiga kali soalnya pas mau ambil krim, krimnya jatuh ke lantai. karena lantainya masih agak basah karena habis dipel, jadi lengket. jadi harus dipel lagi.
pas mau ambil gula, gula jatuh ke lantai (diulang lagi proses yang sama)
trus pas ambil air panas di dispenser, airnya tumpah kena tangan & kaki.
ya kayak gitu tiap hari.
kaki kesandung udah seperti makanan seharihari, karena minimal 3 kali sehari. kayak makan nasi kan.
pas acara lamaran adik saya aja kaki saya bengkak gitu cuma garagara kesandungsandung itu. yang masih sakit sampai sekarang. karena masih sering kesandungsandung terus.
kata mama, saya harusnya pakai sepatu terus walau di dalam rumah.
oiya saya lupa bilang kalo selama menikah saya udah mecahin gelas setengah lusin, 1 mug, dan cangkir setengah lusin. (semua cangkir itu cangkir kado nikah dari teman) jadi maaf ya kepada dua cowok yang waktu itu datang kerumah bawa kado cangkir dibungkus kertas ijo, cangkir kalian udah bye bye, tapi akan selalu kukenang.
nona nyonya dokter pernah bilang, harusnya hidup saya ini disinetronkan saja.
jadi mikir, kalau raam punjabi beneran tertarik bikin sinetron dari cerita saya, bisa jadi judulnya: tersandung.
hahaha.
kalau beneran dibikin bisa bertahan berapa season ya..
mau makan jagung, tragedi
mau scan gambar, tragedi
mau cuci piring, tragedi
mau bikin teh, tragedi tragedi tragedi (3x)
tiga kali soalnya pas mau ambil krim, krimnya jatuh ke lantai. karena lantainya masih agak basah karena habis dipel, jadi lengket. jadi harus dipel lagi.
pas mau ambil gula, gula jatuh ke lantai (diulang lagi proses yang sama)
trus pas ambil air panas di dispenser, airnya tumpah kena tangan & kaki.
ya kayak gitu tiap hari.
kaki kesandung udah seperti makanan seharihari, karena minimal 3 kali sehari. kayak makan nasi kan.
pas acara lamaran adik saya aja kaki saya bengkak gitu cuma garagara kesandungsandung itu. yang masih sakit sampai sekarang. karena masih sering kesandungsandung terus.
kata mama, saya harusnya pakai sepatu terus walau di dalam rumah.
oiya saya lupa bilang kalo selama menikah saya udah mecahin gelas setengah lusin, 1 mug, dan cangkir setengah lusin. (semua cangkir itu cangkir kado nikah dari teman) jadi maaf ya kepada dua cowok yang waktu itu datang kerumah bawa kado cangkir dibungkus kertas ijo, cangkir kalian udah bye bye, tapi akan selalu kukenang.
jadi mikir, kalau raam punjabi beneran tertarik bikin sinetron dari cerita saya, bisa jadi judulnya: tersandung.
hahaha.
kalau beneran dibikin bisa bertahan berapa season ya..
manipulasi
habis baca blognya si nona nyonya dokter. trus ada postingan ini. saya cuma mau konfirmasi, yang tentang kaos kaki itu idenya dia. bukan saya.
dia datang kembali
ketika sd,
pelajaran yang paling saya tidak suka adalah pelajaran olahraga.
lari keliling lapangan, saya selalu di urutan terakhir.
kasti, selalu terkena bola.
dan lompat (tidak terlalu) jauh.
tapi yang paliiing saya tidak suka dari pelajaran olah raga adalah ketika pelajaran lompat tinggi.
dada saya berdegup kencang sekali, ketika setiap pelajaran olahraga saya melihat pak sugeng guru olahraga membawa 2 tiang kayu berwarna coklat.
ah. lompat tinggi lagi..
saya tidak suka lompat tinggi. dan tidak bisa. mungkin bukan karena badan saya kecil yang membuat saya tidak bisa melompati sebilah bambu melintang itu. saya punya teman yang badannya jauh lebih kecil, tapi dia bisa. dan saya tidak.
masalahnya mungkin karena dia berani.
dan saya tidak.
pinggiran potongan bambu itu sepertinya tajam sekali. juga pinggiran bak pasir yang terbuat dari semen itu kelihatannya keras sekali dan sakit kalau kena lutut. saya takut lutut saya terkena bambu ketika melompat, dan saya takut jatuh diatas pinggiran bak pasir.
saya takut takut takut.
---
giliran saya tiba.
"fenty, absen nomer 21!"
saya berlari.
tapi lalu berhenti.
tepat didepan bambu yang melintang.
pak sugeng berteriak:
"ulang sekali lagi, jangan takut!"
mungkin kali ini bisa.
saya berlari mengambil ancang-ancang,
tapi saya kembali berhenti di depan bambu.
pak sugeng berteriak lagi:
"ya sudah, nanti kamu ulang lagi terakhir setelah teman-teman yang lain"
mungkin nanti aku bisa
tapi lagilagi sampai di depan bambu saya tidak melompat.
potongan bambu saya tabrak hingga jatuh.
begitu terulang setiap pelajaran olah raga, sampai saya kelas 6 dan lulus, saya tidak pernah bisa melompati potongan bambu itu. saya dapat nilai 7 di rapor untuk pelajaran olah raga. entah karena nilai saya selalu bagus di pelajaran atletik (bergulung ke depan, belakang, kayang, gitugitu. hahaha), atau mungkin hanya karena saya murid teladan se kabupaten. masak iya di rapotnya ada nilai 5. hahahaha.. menyedihkan
---
di smp saya lebih beruntung, karena tidak pernah ada pelajaran lompat tinggi.
mungkin karena seluruh lapangan olahraganya diplester.
yaay bahagia sepanjang 3 tahun bersekolah. bebas dari bayangbayang sebilah bambu melintang.
---
di sma, ketika saya lihat ada bak pasir besar diantara lapangan bola dan lapangan basket, saya langsung:
aduh
tapi kali ini saya beruntung lagi. seingat saya, sepanjang 3 tahun itu, pelajaran lompat tinggi hanya ada 1 kali, dan kali itu saya bolos dengan alasan sakit. uhuk.
---
lalu ketika kuliah, yang dikuatirkan juga cuma satu:
"di kampus ada pelajaran olah raga nggak sih?"
"enggak"
aaaaa rasanya legaaaaa
bebas selamanya dari horor lompat tinggi
si potongan bambu saya delete dari contact hp
selamat tinggal!
adios!
---
yang saya tidak tau kemudian,
setelah 20 tahun sejak pertama kali bertemu dengan si potongan bambu,
dan saya kira kami sudah berpisah bersamaan dengan status baru jadi mahasiswa,
ternyata dia tidak benarbenar pergi
dia datang lagi
dalam bentuk yang berbeda
bukan lagi sebagai potongan bambu
dia kembali melintang di hadapan saya
dan yang saya tau, saya harus lompat
sekarang atau nanti
hantu potongan bambu yang bangkit kembali itu tidak akan benarbenar pergi, sebelum saya berhasil melompatinya
apa iya, saya akan bisa?
tapi kali ini tidak ada pak sugeng yang baik hati
atau uks tempat melarikan diri
sahabat saya si teteh dokter bilang: "nekat & bismillah"
lalu sahabat saya si nona nyonya dokter menimpali, sambil mengquote temannya residen senior:
"embuh piye carane, pokokmen ngono"
*entah bagaimana caranya, harus terjadi
Monday, December 9, 2013
the itchy brain simulation ***
saya sedang berusaha menenangkan diri. tadinya mau main pokopang saja, tapi baru habis 1 clover, udah yakin kalau ini nggak akan bisa hilang dengan main pokopang. jadi saya menulis saja disini..
...
mungkin hanya orang yang betulbetul sangaaat dekat saja, seperti ibu, adik, bapak & suami saya yang tau, kalau saya ini orangnya sangat rewel (terhadap diri sendiri, bukan orang lain) dalam hal tertentu, yang untuk sebagian besar orang lain tampak tidak penting.
untuk sesuatu yang oleh ibu & suami saya disebut sebagai: 'ya sudah biarkan saja kalau sudah maunya'
mungkin juga hanya mereka yang tau, kalau bahkan untuk mengerjakan hal tidak penting seperti notes & papan nama untuk ospek jurusan waktu itu, ketika batalyon kami memutuskan untuk mengerjakannya bersamasama supaya lebih cepat, saya ikut dalam kerja kelompok itu, tapi papan nama & notes saya hasil dari bekerja kelompok saya buang, untuk saya ulang-kerjakan lagi nanti dirumah.
dan mungkin hanya tuhan yang tau, bahwa bahkan sebelum dimulai acara kerja kelompok di halaman kantor dekan siang itupun, saya sudah merencanakan akan mengulang membuatnya lagi nanti di rumah, karena saya tau, pasti nanti garisnya akan miring, jaraknya tidak sama, guntingan tidak rapi.
pasti nanti jadinya jelek.
it's like itch in my brain i can't scratch -sheldon cooper
malam itu saya sedikit tidur. padahal pagi hari harus sudah berangkat ospek hari pertama.
pun saya sangat yakin, tidak ada satupun yang akan memperhatikan, atau tau, kalau papan nama & buku yang saya bawa pagi itu, bukan benda-benda hasil kerja kelompok kemarin siang.
hanya tuhan yang tau.
tapi otak saya sudah tidak gatal lagi.
...
saya tau ini bukan hal yang baik yang bisa dibanggakan. tapi selama ini saya cukup menikmati konsekuensi dari penyakit ini:
mengerjakan semuanya sendiri.
...
dan untuk saat ini, saya seharusnya paham betul.
kalau membuat buku,
selama masih:
1. tulisan diedit oleh orang lain
2. foto diedit oleh orang lain
3. layout dikerjakan oleh orang lain
4. buku diterbitkan oleh orang lain
5. dan lainlainnya oleh orang lain,
hasilnya pasti akan jauuuuh sekali dari yang saya harapkan,
dan itu tidak apaapa.
tidak apaapa.
sungguh,
tidak apaapa.
*memasukkan hanger baju lewat telinga untuk garuk otak yang gatal*
*saatnya main pokopang lagi*
*** the big bang theory, season 7, episode 8
...
mungkin hanya orang yang betulbetul sangaaat dekat saja, seperti ibu, adik, bapak & suami saya yang tau, kalau saya ini orangnya sangat rewel (terhadap diri sendiri, bukan orang lain) dalam hal tertentu, yang untuk sebagian besar orang lain tampak tidak penting.
untuk sesuatu yang oleh ibu & suami saya disebut sebagai: 'ya sudah biarkan saja kalau sudah maunya'
mungkin juga hanya mereka yang tau, kalau bahkan untuk mengerjakan hal tidak penting seperti notes & papan nama untuk ospek jurusan waktu itu, ketika batalyon kami memutuskan untuk mengerjakannya bersamasama supaya lebih cepat, saya ikut dalam kerja kelompok itu, tapi papan nama & notes saya hasil dari bekerja kelompok saya buang, untuk saya ulang-kerjakan lagi nanti dirumah.
dan mungkin hanya tuhan yang tau, bahwa bahkan sebelum dimulai acara kerja kelompok di halaman kantor dekan siang itupun, saya sudah merencanakan akan mengulang membuatnya lagi nanti di rumah, karena saya tau, pasti nanti garisnya akan miring, jaraknya tidak sama, guntingan tidak rapi.
pasti nanti jadinya jelek.
it's like itch in my brain i can't scratch -sheldon cooper
malam itu saya sedikit tidur. padahal pagi hari harus sudah berangkat ospek hari pertama.
pun saya sangat yakin, tidak ada satupun yang akan memperhatikan, atau tau, kalau papan nama & buku yang saya bawa pagi itu, bukan benda-benda hasil kerja kelompok kemarin siang.
hanya tuhan yang tau.
tapi otak saya sudah tidak gatal lagi.
...
saya tau ini bukan hal yang baik yang bisa dibanggakan. tapi selama ini saya cukup menikmati konsekuensi dari penyakit ini:
mengerjakan semuanya sendiri.
...
dan untuk saat ini, saya seharusnya paham betul.
kalau membuat buku,
selama masih:
1. tulisan diedit oleh orang lain
2. foto diedit oleh orang lain
3. layout dikerjakan oleh orang lain
4. buku diterbitkan oleh orang lain
5. dan lainlainnya oleh orang lain,
hasilnya pasti akan jauuuuh sekali dari yang saya harapkan,
dan itu tidak apaapa.
tidak apaapa.
sungguh,
tidak apaapa.
*memasukkan hanger baju lewat telinga untuk garuk otak yang gatal*
*saatnya main pokopang lagi*
*** the big bang theory, season 7, episode 8
Thursday, November 21, 2013
ngajar di way kambas
sekarang kayaknya tren memaksakan obsesi orang tua pada anak sudah meluas, menjadi obsesi tukang bakso kepada pembeli.
jadi di dekat rumah itu ada kantin bakso gitu yang enak. namanya bakso gajah mungkur. enak lo. ibu mertua aja senang pas dijajanin disitu. nah di kantin itu ada pegawainya yang saya pernah cerita di twitter kalau orangnya mirip banget sama pemeran manusia serigala yang di filem twilligt saga. coba deh suruh dia manjat pohon pasti mirip banget. ya kw2 nya lah. made inchina java. lain kali mau minta foto bareng deh. nanti diupload di twitter ya..
trus di kantin itu juga ada ibuibu kasir yang kerjanya dudukduduk aja kayak bos. tapi kayaknya dia memang bosnya manusia serigala cs itu sih.
si ibuibu yang dimaksut ini suatu hari tanya sama suami saya yang lagi beli bakso sendirian:
"mas, istrinya itu ngajar dimana?"
...
dan suatu hari ketika saya yang jajanjajan sendirian, si ibu tanya sama saya:
"bu, ibu kerjanya dimana?"
"saya dirumah aja bu, kerjanya dirumah"
"di rumah, ngajar?"
"..."
trus tadi siang pas jajan kesana lagi:
"ibu ngajar dirumah ya?"
"eh? enggak bu, saya bukan guru"
"looh.. kenapa nggak ngajar aja?"
"..."
jadi di dekat rumah itu ada kantin bakso gitu yang enak. namanya bakso gajah mungkur. enak lo. ibu mertua aja senang pas dijajanin disitu. nah di kantin itu ada pegawainya yang saya pernah cerita di twitter kalau orangnya mirip banget sama pemeran manusia serigala yang di filem twilligt saga. coba deh suruh dia manjat pohon pasti mirip banget. ya kw2 nya lah. made in
trus di kantin itu juga ada ibuibu kasir yang kerjanya dudukduduk aja kayak bos. tapi kayaknya dia memang bosnya manusia serigala cs itu sih.
si ibuibu yang dimaksut ini suatu hari tanya sama suami saya yang lagi beli bakso sendirian:
"mas, istrinya itu ngajar dimana?"
...
dan suatu hari ketika saya yang jajanjajan sendirian, si ibu tanya sama saya:
"bu, ibu kerjanya dimana?"
"saya dirumah aja bu, kerjanya dirumah"
"di rumah, ngajar?"
"..."
trus tadi siang pas jajan kesana lagi:
"ibu ngajar dirumah ya?"
"eh? enggak bu, saya bukan guru"
"looh.. kenapa nggak ngajar aja?"
"..."
Subscribe to:
Comments (Atom)