Saturday, February 22, 2020
pemberani
((orang paling berani di antara orang-orang yang kukenal))
beberapa kali dalam hidupku, orang-orang mengatakan hal yang serupa. bilang kalau aku adalah orang yang pemberani. yang paling pemberani dari semua yang mereka kenal.
kadang-kadang ada masanya aku percaya apa yang mereka katakan. hoiya, mungkin benar, aku seorang pemberani. tapi sesungguhnya aku lebih sering merasa sebaliknya. kalau berlagak sok berani, memang iya. tapi kalau berani sungguhan, aku kira enggak.
aku jarang sekali merasa aku adalah orang yang pemberani. malah sering-sering yang terjadi justru aku pasti sedang takut dengan sesuatu. tapi saat ini mungkin adalah salah satu masa di mana aku menyadari bahwa aku benar-benar adalah seorang penakut. kalau aku perhatikan, sepertinya kisahku dan segala hal yang terjadi padaku saat ini, juga sedang ingin sekali membuktikan betapa sesungguhnya aku adalah seorang penakut.
rasanya seperti ada suara yang terus berteriak-teriak di telingaku: "kamu itu ternyata penakut, fen! keberanianmu cuma palsu! kalau kamu memang berani, kamu pasti sudah dapat apa yang kamu bilang kamu paling inginkan itu saat ini. tapi kamu enggak, kan? di mana kamu sekarang? di sini? bukan! kamu masih di situ! kamu jatuh, tapi kamu nggak sanggup berdiri lagi. jangankan lari. berdiri saja kamu tidak bisa. mana ada pemberani seperti itu? nangis di pojokan, merasa tidak berdaya! orang-orang paling penakut di dunia, bahkan mereka lebih pemberani daripada kamu."
dadaku memburu, ingin sekali membuktikan kalau suara-suara itu salah. aku bukan penakut, kok. aku memang yang lain-lainnya, tapi bukan penakut.
tapi semakin ingin aku membuktikannya, semakin aku bisa melihat kenyataannya.
..
ternyata begitu.
aku tidak sepemberani itu, kok.
aku ingin sekali menjadi seorang pemberani.
tapi aku bukan.
kalau di dunia ini ada orang yang dirugikan, dikecewakan, dan ditumbangkan dengan kenyataan ini,
semoga orang itu cuma aku.
Monday, February 17, 2020
maaf
apakah kamu pernah meminta maaf?
bagaimana caramu meminta maaf?
dunia ini penuh sekali dengan manusia-manusia yang tidak mau mengakui kesalahannya.
suami membuat istrinya sedih. bukan minta maaf, dia malah beliin hadiah mahal untuk istrinya. (dia yang selalu bikin salah, dia yang selalu kasih hadiah mahal, dia juga yang bilang istrinya matre. lol.)
bapak salah menuduh anaknya. bukannya minta maaf, dia malah pergi, dan lalu pulang bawa oleh-oleh makanan kesukaan anaknya.
ibu membuat anaknya kecewa. bukan meminta maaf sama anaknya, dia bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
lalu kata netizen:
"ah. semua laki-laki itu memang seperti itu. masih mending ituu, dia menunjukkan penyesalan. beruntung banget kamu dapat suami romantis seperti itu.. kalau aku sih.."
netizen lainnya:
"aaaw so sweet. itu tandanya, bapak kamu tu menyesal. beruntung banget punya bapak sesayang itu sama anaknya, sampai hafal banget makanan kesukaan anaknya. kalau aku sih.."
komentar netizen berikutnya:
"astagaaa.. cuma masalah gitu aja. kamu tu sadar nggak, kekecewaan kamu itu tidak sebanding dengan rasa sakit melahirkan & pengorbanan ibumu membesarkan kamu selama ini! masih beruntung kamu punya ibu. coba tu liat anak-anak yang nggak punya ibu.."
........
aku?
ternyata aku juga sama saja seperti mereka.
aku sebelum ini dikenal sebagai orang yang sering sekali meminta maaf. setiap aku berbuat kesalahan sekecil apapun, selalu otomatis terucap: "maaf."
aku terlambat datang, aku bilang: "aduh maaf."
aku janji tapi nggak kutepati, aku bilang: "maaf ya,"
bikin orang lain sedih kecewa marah, aku pasti bilang: "maaf.."
aku bilang maaf,
tapi besoknya aku masih datang terlambat.
aku sudah bilang maaf,
tapi besoknya enteng saja bikin janji tanpa pikir panjang.
aku kan sudah bilang maaf,
jadi kalau dia masih sedih kecewa marah ya aku bisa apalagi. kan aku udah minta maaf. namanya juga manusia. tempatnya salah dan lupa.
ew.
fen..
untung ya, tuhan itu maha sabar..
dia nggak bilang "ew", ketika lagi-lagi aku bilang: "astagfirullaaah" setelah mengulang kesalahan untuk yang ke seribu enam ratus tujuh puluh sembilan kalinya.
........
apakah kamu pernah meminta maaf?
bagaimana caramu meminta maaf?
menunjukkan penyesalan itu bagus sekali,
tapi setelah meminta maaf dengan baik.
meminta maaf itu baik sekali,
tapi kalau kamu benar-benar mengerti, kenapa kamu harus minta maaf.
Tuesday, December 3, 2019
karma
kamu pernah dengar kan, kata-kata semacam: "jangan lakukan sesuatu ke orang lain, hal yang kamu nggak mau orang lain lakukan itu ke kamu."
aku ingat banget waktu aku masih sd pertama kali dengar kalimat itu, aku langsung "wow, ini jenius banget." waktu itu aku memutuskan untuk menyerap setiap esensi dari kalimat tersebut supaya aku bisa ingat selamanya.
yang aku baru saja sadari adalah, ternyata selama ini aku salah mengambil inti dari kalimat tersebut. selama ini aku berpikir, berarti: kalau kamu tidak melakukan sesuatu ke orang itu hal yang kamu nggak mau orang itu lakukan ke kamu, pasti dia akan melakukan hal yang sama.
aku nggak pernah curangi kamu,
berarti kamu juga nggak akan pernah curangi aku.
SALAH.
aku nggak curangi kamu,
kamu bisa aja kalau mau curangi aku.
aku nggak akan pernah menghianati kamu,
berarti kamu nggak akan pernah menghianati aku.
SALAH.
aku nggak berhianat,
kamu tetap bisa memilih untuk menghianati aku.
aku nggak akan menghakimi apapun keputusanmu, seaneh apapun keputusan itu bagi jutaan orang lainnya di dunia.
berarti kamu akan melakukan hal yang sama, dong. ketika aku dianggap aneh oleh orang-orang lainnya yang nggak kenal aku, kamu adalah salah satu yang nggak mikir gitu. karena kamu tau aku. jadi kamu percaya dengan keputusan yang aku buat.
SALAH.
aku nggak ngejudge kamu,
kamu AKAN SELALU ngejudge aku.
hahahah.
aku sedih & marah dia jahat sama kamu.
berarti kamu juga akan membela aku ketika ada yang jahat sama aku.
SALAH.
aku bela kamu ketika kamu disakiti,
tapi ketika ada orang yang kamu tau jahat sekali sama aku, kamu nggak peduli.
kamu bahkan foto bareng orang itu sambil peluk-pelukan trus kamu upload di instagram storymu & kamu tulis caption: #senengbangetdehseharianngobrolsamaorangini #kitaakrabbangetya #mybestbuddyever
wow.
aku selalu mendukungmu, jadi temanmu.
berarti kamu juga adalah manusia yang mendukung aku, jadi temanku. setidaknya ketika aku membutuhkan itu - yang mana kamu tau jarang sekali aku (mengakui) kalau aku membutuhkan bantuan seseorang, apalagi sampai memintanya.
SALAH.
aku selalu datang ketika kamu "epeeeen aku butuh kamu banget sekarang" meskipun kamu jauh, meskipun aku ada deadline malam itu.
tapi kamu selalu sedang sibuk dengan urusanmu sendiri. kamu menganggap aku manusia yang terlahir tanpa masalah & kebutuhan terhadap manusia lainnya.
aku bahagia dengan semua pencapaianmu.
berarti kamu akan ikut senang juga ketika aku berhasil melakukan sesuatu yang berarti untukku.
SALAH.
aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu,
tapi kamu diam-diam kzl ketika hal itu terjadi padaku. "ah tapi kan..", katamu.
aku simpan semua rahasiamu rapat-rapat.
berarti kamu juga akan melakukan hal yang sama, walaupun kamu diancam oleh penculik sekalipun.
SALAH.
aku percayakan kamu hal yang penting,
dan kamu cerita ke orang pertama yang kamu temui hari itu.
ew.
aku maklumi dan maafkan kesalahanmu.
berarti kamu juga pasti paham kalau semua manusia termasuk aku (karena aku juga manusia sama seperti kamu) pasti melakukan banyak kesalahan kecil dan besar setiap hari.
SALAH.
kamu menolak untuk melihat pilihan baik yang aku lakukan, dan memilih untuk melihat kesalahan-kesalahanku dengan kaca pembesar, kamu catat, & terus kamu ingat-ingat.
...
sekarang aku tau, ternyata aku punya pilihan dan bisa memilih untuk melakukan hal yang aku nggak mau orang lakukan kepadaku, atau sebaliknya. karena semua pilihanku itu, nggak ada pengaruhnya sama sekali dengan apa yang orang lain pilih untuk lakukan kepadaku.
"the world owes you nothing." kata basuki tadi pagi.
apakah aku tetap bisa memilih untuk melakukan hal yang lebih sulit,
walaupun tidak akan ada balasannya sama sekali?
aku akan tetap berusaha.
but from now on, i know better on how to do that.
aku ingat banget waktu aku masih sd pertama kali dengar kalimat itu, aku langsung "wow, ini jenius banget." waktu itu aku memutuskan untuk menyerap setiap esensi dari kalimat tersebut supaya aku bisa ingat selamanya.
yang aku baru saja sadari adalah, ternyata selama ini aku salah mengambil inti dari kalimat tersebut. selama ini aku berpikir, berarti: kalau kamu tidak melakukan sesuatu ke orang itu hal yang kamu nggak mau orang itu lakukan ke kamu, pasti dia akan melakukan hal yang sama.
aku nggak pernah curangi kamu,
berarti kamu juga nggak akan pernah curangi aku.
SALAH.
aku nggak curangi kamu,
kamu bisa aja kalau mau curangi aku.
aku nggak akan pernah menghianati kamu,
berarti kamu nggak akan pernah menghianati aku.
SALAH.
aku nggak berhianat,
kamu tetap bisa memilih untuk menghianati aku.
aku nggak akan menghakimi apapun keputusanmu, seaneh apapun keputusan itu bagi jutaan orang lainnya di dunia.
berarti kamu akan melakukan hal yang sama, dong. ketika aku dianggap aneh oleh orang-orang lainnya yang nggak kenal aku, kamu adalah salah satu yang nggak mikir gitu. karena kamu tau aku. jadi kamu percaya dengan keputusan yang aku buat.
SALAH.
aku nggak ngejudge kamu,
kamu AKAN SELALU ngejudge aku.
hahahah.
aku sedih & marah dia jahat sama kamu.
berarti kamu juga akan membela aku ketika ada yang jahat sama aku.
SALAH.
aku bela kamu ketika kamu disakiti,
tapi ketika ada orang yang kamu tau jahat sekali sama aku, kamu nggak peduli.
kamu bahkan foto bareng orang itu sambil peluk-pelukan trus kamu upload di instagram storymu & kamu tulis caption: #senengbangetdehseharianngobrolsamaorangini #kitaakrabbangetya #mybestbuddyever
wow.
aku selalu mendukungmu, jadi temanmu.
berarti kamu juga adalah manusia yang mendukung aku, jadi temanku. setidaknya ketika aku membutuhkan itu - yang mana kamu tau jarang sekali aku (mengakui) kalau aku membutuhkan bantuan seseorang, apalagi sampai memintanya.
SALAH.
aku selalu datang ketika kamu "epeeeen aku butuh kamu banget sekarang" meskipun kamu jauh, meskipun aku ada deadline malam itu.
tapi kamu selalu sedang sibuk dengan urusanmu sendiri. kamu menganggap aku manusia yang terlahir tanpa masalah & kebutuhan terhadap manusia lainnya.
aku bahagia dengan semua pencapaianmu.
berarti kamu akan ikut senang juga ketika aku berhasil melakukan sesuatu yang berarti untukku.
SALAH.
aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu,
tapi kamu diam-diam kzl ketika hal itu terjadi padaku. "ah tapi kan..", katamu.
aku simpan semua rahasiamu rapat-rapat.
berarti kamu juga akan melakukan hal yang sama, walaupun kamu diancam oleh penculik sekalipun.
SALAH.
aku percayakan kamu hal yang penting,
dan kamu cerita ke orang pertama yang kamu temui hari itu.
ew.
aku maklumi dan maafkan kesalahanmu.
berarti kamu juga pasti paham kalau semua manusia termasuk aku (karena aku juga manusia sama seperti kamu) pasti melakukan banyak kesalahan kecil dan besar setiap hari.
SALAH.
kamu menolak untuk melihat pilihan baik yang aku lakukan, dan memilih untuk melihat kesalahan-kesalahanku dengan kaca pembesar, kamu catat, & terus kamu ingat-ingat.
...
sekarang aku tau, ternyata aku punya pilihan dan bisa memilih untuk melakukan hal yang aku nggak mau orang lakukan kepadaku, atau sebaliknya. karena semua pilihanku itu, nggak ada pengaruhnya sama sekali dengan apa yang orang lain pilih untuk lakukan kepadaku.
"the world owes you nothing." kata basuki tadi pagi.
apakah aku tetap bisa memilih untuk melakukan hal yang lebih sulit,
walaupun tidak akan ada balasannya sama sekali?
aku akan tetap berusaha.
but from now on, i know better on how to do that.
Tuesday, October 29, 2019
resolusi akhir tahun
hidup sampai umur 35 tahun, rasa-rasanya aku tidak pernah benar-benar membuat resolusi awal tahun. 🙈 ya kayaknya dulu pernah sih, pas sekolah satu dua kali bikin daftar. tapi cuma karena semua orang di dunia ini bikin, & aku nggak mau jadi beda sendiri. tapi nggak pernah bener-bener ngerti gitu lo, apa sih resolusi & apa gunanya.
ini sudah di akhir bulan ke sepuluh di tahun ini, dan hari ini aku memutuskan untuk membuat daftar. tidak seperti resolusi awal tahun yang kubuat ketika masih sekolah, resolusi kali ini lebih berfungsi sebagai pengingat daripada menjadi target, dan berlaku untuk seumur hidup, setidaknya sampai akhirnya nanti aku menemukan bahwa resolusi ini sudah tidak relevan lagi. karena dalam perjalanan ini, kita pasti akan selalu menemui kesadaran-kesadaran baru.
sebisa mungkin, sebanyak mungkin, aku akan berusaha untuk:
1.
menomor satukan aku.
2.
berhenti bercita-cita menjadi manusia yang sempurna.
3.
berhenti berusaha membuat kamu jatuh cinta sama aku.
4.
memilih.
dengan sadar.
5.
menerima seluruhnya.
konsekuensi atas pilihan-pilihanku.
6.
kalau aku bilang tidak, berarti tidak.
7.
kalau aku bilang iya, berarti iya.
8.
mendengarkan kata hatiku.
9.
mendengarkan badanku.
10.
mempercayai hasil pemikiranku sendiri.
11.
berhenti menjelaskan tentang diriku.
12.
mendapatkan yang aku inginkan.
13.
menerima.
dengan sebaik-baiknya segala rasa yang memang harus aku rasakan.
14.
bebas merasakan yang aku rasakan,
karena untuk merasakan hal tertentu,
aku tidak membutuhkan validasi dari orang lain.
15.
bilang.
apa yang aku mau,
apa yang aku rasakan,
apa yang aku pikirkan.
yang sebenar-benarnya.
atau diam.
16.
melakukan segala sesuatu dalam waktuku sendiri.
17.
berhenti membandingkan diriku sendiri dengan orang lain.
18.
berhenti berusaha untuk menjadi sama dengan orang lain.
19.
bertanya pada diri sendiri: "saat ini kamu sedang merasakan apa?"
20.
bertanya pada diri sendiri: "kamu butuh apa?"
21.
bertanya pada diri sendiri:"kamu inginnya bagaimana?"
22.
berhenti sebentar
(atau lama),
lalu merespon
(atau tidak merespon).
23.
bikin salah.
daripada nggak bikin apa-apa.
24.
bilang sama diri sendiri: "nggak apa-apa, kok."
25.
membiarkan kamu hidup dengan pilihan-pilihanmu.
27.
lebih sabar, sabar, sabar, sayang, dengan diri sendiri.
28.
berterima kasih.
daftar ini akan terus bertambah dan berubah. semoga panjang umur.
ini sudah di akhir bulan ke sepuluh di tahun ini, dan hari ini aku memutuskan untuk membuat daftar. tidak seperti resolusi awal tahun yang kubuat ketika masih sekolah, resolusi kali ini lebih berfungsi sebagai pengingat daripada menjadi target, dan berlaku untuk seumur hidup, setidaknya sampai akhirnya nanti aku menemukan bahwa resolusi ini sudah tidak relevan lagi. karena dalam perjalanan ini, kita pasti akan selalu menemui kesadaran-kesadaran baru.
sebisa mungkin, sebanyak mungkin, aku akan berusaha untuk:
1.
menomor satukan aku.
2.
berhenti bercita-cita menjadi manusia yang sempurna.
3.
berhenti berusaha membuat kamu jatuh cinta sama aku.
4.
memilih.
dengan sadar.
5.
menerima seluruhnya.
konsekuensi atas pilihan-pilihanku.
6.
kalau aku bilang tidak, berarti tidak.
7.
kalau aku bilang iya, berarti iya.
8.
mendengarkan kata hatiku.
9.
mendengarkan badanku.
10.
mempercayai hasil pemikiranku sendiri.
11.
berhenti menjelaskan tentang diriku.
12.
mendapatkan yang aku inginkan.
13.
menerima.
dengan sebaik-baiknya segala rasa yang memang harus aku rasakan.
14.
bebas merasakan yang aku rasakan,
karena untuk merasakan hal tertentu,
aku tidak membutuhkan validasi dari orang lain.
15.
bilang.
apa yang aku mau,
apa yang aku rasakan,
apa yang aku pikirkan.
yang sebenar-benarnya.
atau diam.
16.
melakukan segala sesuatu dalam waktuku sendiri.
17.
berhenti membandingkan diriku sendiri dengan orang lain.
18.
berhenti berusaha untuk menjadi sama dengan orang lain.
19.
bertanya pada diri sendiri: "saat ini kamu sedang merasakan apa?"
20.
bertanya pada diri sendiri: "kamu butuh apa?"
21.
bertanya pada diri sendiri:"kamu inginnya bagaimana?"
22.
berhenti sebentar
(atau lama),
lalu merespon
(atau tidak merespon).
23.
bikin salah.
daripada nggak bikin apa-apa.
24.
bilang sama diri sendiri: "nggak apa-apa, kok."
25.
membiarkan kamu hidup dengan pilihan-pilihanmu.
27.
lebih sabar, sabar, sabar, sayang, dengan diri sendiri.
28.
berterima kasih.
daftar ini akan terus bertambah dan berubah. semoga panjang umur.
Tuesday, October 8, 2019
REKOMENDASI BUKU untuk 2019 #4
langsung ya, mumpung sedang ada niat untuk menulis, (& sebetulnya sih ini aku memang lagi procrastinating karena harusnya ada hal yang lebih penting & mendesak untuk dilakukan, yaitu BALAS EMAIL, tapi malaaaaaaas banget ya allah), mari dimanfaatkan untuk nulis aja lah daripada ngelamun jorok.
BUKU 4:
judul: 13 things mentally strong people don't do
penulis: amy morin
jenis: self help
tahun terbit: 2017
penerbit: harper collins
isbn: 9780062358301
jumlah halaman: 275
amy morin ini adalah seorang terapis di sebuah community mental health center, tapi dia menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya ketika dia sedang dalam proses bangkit setelah mengalami tragedi berulang-ulang dalam hidupnya. di halaman awal aku baca buku ini, aku sempat "loh, kok kayaknya aku pernah baca cerita ini, sih." ternyata aku memang pernah nonton ted talknya dia di youtube. nonton dulu aja kalau kamu mau tau penulisnya ini orangnya seperti apa.
ini adalah salah satu buku yang aku paling cepat bacanya, karena gaya menulisnya yang sangat jelas & runut sekali. walaupun singkat, tapi jangan tanya rasanya membaca ini. uh, kayak dirudal hati ini berkali-kali. gitu kan ya rasanya, kalau kamu akhirnya menyadari keadaan diri sendiri yang ternyata jauh dari ekspektasi. hahaha.
jadi tu, aku selama ini berpikir kalau aku ini adalah orang dengan mental yang lumayan kuat. apalagi kalau dibandingkan dengan orang-orang yang aku temui sehari-hari. aku cenderung positif dalam menghadapi berbagai persoalan & bahkan biasanya berhasil mengubah tragedi jadi lelucon, atau mengubah sesuatu yang berat menjadi sesuatu yang ringan & 'bisa lah ini aku tangani sendiri.' intinya, aku tu enggak manja & mandiri. jadi pasti aku termasuk manusia kuat nih. kupikir, kan.
eeehhh...
ya memang seharusnya kita tu jadi orang jangan suka banding-bandingin diri sendiri sama orang lain, tapi bandingkanlah diri sendiri dengan dirimu sendiri di masa lalu, udah ada peningkatan apa belum yaaa ini. atau masih gitu-gitu aja, atau malah bablas makin parah.
trooooos, apaka kamu sudah tau jika:
- mempunyai mental yang kuat itu bukan berarti menjadi manusia yang selalu berpikiran positif, tapi bagaimana menjadi manusia yang berpikir realistis & rasional.
- ini juga bukan tentang terlihat kuat di hadapan orang lain, tapi bagaimana kamu bisa bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang kamu percayai.
- memiliki mental yang kuat itu juga bukan berarti kamu trus jadi mengabaikan atau menekan perasaan & emosimu sendiri, tapi justru bagaimana kamu bisa selalu aware dengan apa yang sedang kamu rasakan, & menyadari bagaimana emosi-emosi tersebut mempengaruhi pemikiran & tindakanmu.
- memiliki mental yang kuat itu bukan tentang kamu harus memaksa badanmu untuk sampai pada limitnya & mengabaikan rasa sakit, tapi justru kemampuan untuk membaca sinyal yang diberikan oleh badanmu.
- ketika kamu memiliki mental yang yang kuat, bukan berarti kamu udah nggak butuh lagi pertolongan orang lain, tapi malah justru sebaliknya. kamu sadar sepenuhnya kalau dalam hidup ini, kamutu enggak mungkin punya jawaban atas segala sesuatu, & pada suatu saat, kamu pasti butuh pertolongan dari orang lain.
-meningkatkan kekuatan mental itu bukan tentang mengejar kebahagiaan dalam hidup, tapi tentang bagaimana kamu bisa mengambil keputusan-keputusan yang baik untuk dirimu sendiri.
- kekuatan mental tyda sama dengan kesehatan mental.
setelah baca beberapa poin di atas aja langsung ketauan kalau waooow ternyata banyak pengertianku tentang kekuatan mental yang ternyata salah, & iyaya, aku nggak sekuat itu. ternyata.
berikut 13 daftarnya, dan diagnosisku terhadap diriku sendiri, dimulai dari yang skornya paling bagus (berdasarkan menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam buku tersebut)
fenty yang lumayan bagus skornya:
1. they don't fear alone time
2. they don't waste time feeling sorry for themselves.
3. they don't feel the world owes them anything
4. they don't give up after the first failure
5. they don't dwell on the past
fenty yang nggak terlalu bagus skornya:
6. they don't expect immediate results
7. they don't resent other people success
8. they don't make mistake over and over
9. they don't shy away from change
fenty, yang wow ternyata aku begini ya, kok nggak sadar selama ini:
10. they don't worry about pleasing everyone
11. they don't give away their power
12. they don't fear taking calculated risks
13. they don't focus on the things they can't control
nah baca buku ini tu jadi ngeh gitu lo, hal-hal yang selama ini sebenarnya aku udah sadar kalau ini memang kekuranganku, tapi aku nggak menduga kalau ternyata itu ada hubungannya dengan kekuatan mental, & sebesar itu ternyata mereka menghambat aku untuk mendapatkan sesuatu yang aku mau. DAN, baru sadar juga ternyata kekurangan-kekurangan ini BISA diubah & dilatih kalau aku mau, (karena mereka bukan sakit mental).
aku memang sengaja bikin urutan, supaya aku bisa fokus naik-naikin skor yang aku masih kurang-kurang banget (nomer 10-13). aku selesein baca buku ini kemarin bulan juli, dan pas aku nulis ini di bulan oktober, aku merasa aku udah ada peningkatan lo di beberapa poin, trus rasanya waaaa seneng yaaa. hihihi. mungkin beberapa bulan lagi aku harus ulang baca buku ini untuk ngecek lagi kalau-kalau ada yang kelupaan.
quotenya aku pili yang rada umum aja ya:
developing mental strength isn't about having to be the best at everything. instead, developing mental strength means knowing that you'll be okay no matter what happens. you'll be best prepared for whatever circumstances you encounter when you're mentally strong. not only will you be ready to deal with the realities of life, but you'll be able to live according to your values no matter what life throws you away.
when you become mentally strong, you will be your best self, have the courage to do what's right, and develop a true comfort with who you are, and what you are capable of achieving.
baca rekomendasi buku sebelumnya di sini.
BUKU 4:
judul: 13 things mentally strong people don't do
penulis: amy morin
jenis: self help
tahun terbit: 2017
penerbit: harper collins
isbn: 9780062358301
jumlah halaman: 275
amy morin ini adalah seorang terapis di sebuah community mental health center, tapi dia menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya ketika dia sedang dalam proses bangkit setelah mengalami tragedi berulang-ulang dalam hidupnya. di halaman awal aku baca buku ini, aku sempat "loh, kok kayaknya aku pernah baca cerita ini, sih." ternyata aku memang pernah nonton ted talknya dia di youtube. nonton dulu aja kalau kamu mau tau penulisnya ini orangnya seperti apa.
ini adalah salah satu buku yang aku paling cepat bacanya, karena gaya menulisnya yang sangat jelas & runut sekali. walaupun singkat, tapi jangan tanya rasanya membaca ini. uh, kayak dirudal hati ini berkali-kali. gitu kan ya rasanya, kalau kamu akhirnya menyadari keadaan diri sendiri yang ternyata jauh dari ekspektasi. hahaha.
jadi tu, aku selama ini berpikir kalau aku ini adalah orang dengan mental yang lumayan kuat. apalagi kalau dibandingkan dengan orang-orang yang aku temui sehari-hari. aku cenderung positif dalam menghadapi berbagai persoalan & bahkan biasanya berhasil mengubah tragedi jadi lelucon, atau mengubah sesuatu yang berat menjadi sesuatu yang ringan & 'bisa lah ini aku tangani sendiri.' intinya, aku tu enggak manja & mandiri. jadi pasti aku termasuk manusia kuat nih. kupikir, kan.
eeehhh...
ya memang seharusnya kita tu jadi orang jangan suka banding-bandingin diri sendiri sama orang lain, tapi bandingkanlah diri sendiri dengan dirimu sendiri di masa lalu, udah ada peningkatan apa belum yaaa ini. atau masih gitu-gitu aja, atau malah bablas makin parah.
trooooos, apaka kamu sudah tau jika:
- mempunyai mental yang kuat itu bukan berarti menjadi manusia yang selalu berpikiran positif, tapi bagaimana menjadi manusia yang berpikir realistis & rasional.
- ini juga bukan tentang terlihat kuat di hadapan orang lain, tapi bagaimana kamu bisa bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang kamu percayai.
- memiliki mental yang kuat itu juga bukan berarti kamu trus jadi mengabaikan atau menekan perasaan & emosimu sendiri, tapi justru bagaimana kamu bisa selalu aware dengan apa yang sedang kamu rasakan, & menyadari bagaimana emosi-emosi tersebut mempengaruhi pemikiran & tindakanmu.
- memiliki mental yang kuat itu bukan tentang kamu harus memaksa badanmu untuk sampai pada limitnya & mengabaikan rasa sakit, tapi justru kemampuan untuk membaca sinyal yang diberikan oleh badanmu.
- ketika kamu memiliki mental yang yang kuat, bukan berarti kamu udah nggak butuh lagi pertolongan orang lain, tapi malah justru sebaliknya. kamu sadar sepenuhnya kalau dalam hidup ini, kamutu enggak mungkin punya jawaban atas segala sesuatu, & pada suatu saat, kamu pasti butuh pertolongan dari orang lain.
-meningkatkan kekuatan mental itu bukan tentang mengejar kebahagiaan dalam hidup, tapi tentang bagaimana kamu bisa mengambil keputusan-keputusan yang baik untuk dirimu sendiri.
- kekuatan mental tyda sama dengan kesehatan mental.
setelah baca beberapa poin di atas aja langsung ketauan kalau waooow ternyata banyak pengertianku tentang kekuatan mental yang ternyata salah, & iyaya, aku nggak sekuat itu. ternyata.
berikut 13 daftarnya, dan diagnosisku terhadap diriku sendiri, dimulai dari yang skornya paling bagus (berdasarkan menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam buku tersebut)
fenty yang lumayan bagus skornya:
1. they don't fear alone time
2. they don't waste time feeling sorry for themselves.
3. they don't feel the world owes them anything
4. they don't give up after the first failure
5. they don't dwell on the past
fenty yang nggak terlalu bagus skornya:
6. they don't expect immediate results
7. they don't resent other people success
8. they don't make mistake over and over
9. they don't shy away from change
fenty, yang wow ternyata aku begini ya, kok nggak sadar selama ini:
10. they don't worry about pleasing everyone
11. they don't give away their power
12. they don't fear taking calculated risks
13. they don't focus on the things they can't control
nah baca buku ini tu jadi ngeh gitu lo, hal-hal yang selama ini sebenarnya aku udah sadar kalau ini memang kekuranganku, tapi aku nggak menduga kalau ternyata itu ada hubungannya dengan kekuatan mental, & sebesar itu ternyata mereka menghambat aku untuk mendapatkan sesuatu yang aku mau. DAN, baru sadar juga ternyata kekurangan-kekurangan ini BISA diubah & dilatih kalau aku mau, (karena mereka bukan sakit mental).
aku memang sengaja bikin urutan, supaya aku bisa fokus naik-naikin skor yang aku masih kurang-kurang banget (nomer 10-13). aku selesein baca buku ini kemarin bulan juli, dan pas aku nulis ini di bulan oktober, aku merasa aku udah ada peningkatan lo di beberapa poin, trus rasanya waaaa seneng yaaa. hihihi. mungkin beberapa bulan lagi aku harus ulang baca buku ini untuk ngecek lagi kalau-kalau ada yang kelupaan.
quotenya aku pili yang rada umum aja ya:
developing mental strength isn't about having to be the best at everything. instead, developing mental strength means knowing that you'll be okay no matter what happens. you'll be best prepared for whatever circumstances you encounter when you're mentally strong. not only will you be ready to deal with the realities of life, but you'll be able to live according to your values no matter what life throws you away.
when you become mentally strong, you will be your best self, have the courage to do what's right, and develop a true comfort with who you are, and what you are capable of achieving.
baca rekomendasi buku sebelumnya di sini.
REKOMENDASI BUKU untuk 2019 #3
haee..
selamat datang di rekomendasi buku untuk 2019 ke 3. gimana ya, kepingin ketawa akutu. ini udah bulan oktober, jadi mestinya memang udahlah judulnya aku ilangin aja ya, taunnya. hahaha. gila ya aku udah aim low 6 buku, tetep aja nggak kekejar lo. semoga target baca 40 buku setaun akan lebih baik. masih 3 bulan, aku masih kurang 11 buku lagi.
bisa lah, ya..
bisa nggak, ya..
hahaha..
oke.
BUKU 3:
judul: the boy who was raised as a dog. and other stories from a child psychiatrist's notebook. what traumatized children can teach us about loss, love, and healing.
penulis: bruce d. perry, md, phd & maia szalavitz
jenis: psychology
tahun terbit: 2017 (revised & updated edition)
penerbit: basic books
isbn: 0465094457
jumlah halaman: 418
hmm. buku nonfiksi, lagi. psikologi, lagi. bahkan sekarang ini tu yang di pikiranku mau aku jadiin rekomendasi buku ke 4 juga buku psikologi, lo. ini apa karena aku pernah kepingin jadi sarjana psikologi nggak kesampaian, apa gimana.. nggak ngerti juga.
oke fokus, fen.
jadi, buku ini tu berisi kisah-kisah nyata tentang pasien-pasien yang pernah ditangani oleh penulisnya, dr perry. dr perry adalah seorang dokter psikiatri anak, dengan spesialisasi menangani anak-anak yang mengalami trauma berat, seperti misalnya mengalami perkosaan, penyiksaan, atau anak yang menyaksikan orang tuanya dibunuh.
uh.
ya. UH.
jadi kalau kamu nggak kuat baca cerita 'sadis' semacam ini, yaudah ini buku bukan buat kamu. atau disarankan juga sebetulnya, baca buku ini jangan langsung dihabisin gitu, tapi di-pause-pause, atau mungkin disambil-sambil baca buku lain aja. ya walaupun seperti bisa diduga, aku bacanya nggak bisa berhenti, sampai pada satu bab ketika aku baca buku ini, aku muntah-muntah.
aku ingat, waktu baca buku ini aku baru kepikir, ternyata bisa ya, hati dipatahkan berkali-kali oleh sebuah buku :( walaupun begitu, kalau kamu bisa, BACA BUKU INI.
menurut aku, buku ini betul-betul buku yang penting. terutama untuk kamu yang hidup, atau berencana untuk hidup di sekitar anak-anak. untuk aku, manusia dewasa yang tidak hidup bersama anak kecil pun, buku ini membantu aku untuk lebih mengerti tentang diri sendiri dan orang lain dengan lebih baik. karena kan semua orang dewasa, dulunya pasti pernah menjadi anak-anak.
melalui buku ini, aku juga baru sadar betapa berpengaruhnya masa-masa kehidupan manusia sejak dari lahir, bayi & balita, terhadap kehidupan kita, & pilihan-pilihan yang kita ambil setelah kita dewasa. buku ini juga menggaris bawahi pentingnya kehadiran orang dewasa pada masa-masa itu. aku juga jadi mengerti bahwa ternyata pengaruh trauma ketika manusia masih pada usia tersebut, akan berdampak jauuuh lebih besar daripada apabila trauma terjadi ketika kita sudah dewasa.
banyak quote yang penting, tapi aku salin yang ini aja:
for years, mental health professionals taught people they could be psychologically healthy without social support, that "unless you love yourself, no one else will love you." women were told that they didn't need men, and vice versa. people without any relationships were believed to be as healthy as those who had many.
these ideas contradict the fundamental biology of human species: we are social mammals and could never have survived without deeply interconnected and interdependent human contact. the truth is, you cannot love yourself unless you have been loved and are loved. the capacity to love cannot be built in isolation.
selamat membaca!
baca rekomendasi buku #2 di sini
selamat datang di rekomendasi buku untuk 2019 ke 3. gimana ya, kepingin ketawa akutu. ini udah bulan oktober, jadi mestinya memang udahlah judulnya aku ilangin aja ya, taunnya. hahaha. gila ya aku udah aim low 6 buku, tetep aja nggak kekejar lo. semoga target baca 40 buku setaun akan lebih baik. masih 3 bulan, aku masih kurang 11 buku lagi.
bisa lah, ya..
bisa nggak, ya..
hahaha..
oke.
BUKU 3:
judul: the boy who was raised as a dog. and other stories from a child psychiatrist's notebook. what traumatized children can teach us about loss, love, and healing.
penulis: bruce d. perry, md, phd & maia szalavitz
jenis: psychology
tahun terbit: 2017 (revised & updated edition)
penerbit: basic books
isbn: 0465094457
jumlah halaman: 418
hmm. buku nonfiksi, lagi. psikologi, lagi. bahkan sekarang ini tu yang di pikiranku mau aku jadiin rekomendasi buku ke 4 juga buku psikologi, lo. ini apa karena aku pernah kepingin jadi sarjana psikologi nggak kesampaian, apa gimana.. nggak ngerti juga.
oke fokus, fen.
jadi, buku ini tu berisi kisah-kisah nyata tentang pasien-pasien yang pernah ditangani oleh penulisnya, dr perry. dr perry adalah seorang dokter psikiatri anak, dengan spesialisasi menangani anak-anak yang mengalami trauma berat, seperti misalnya mengalami perkosaan, penyiksaan, atau anak yang menyaksikan orang tuanya dibunuh.
uh.
ya. UH.
jadi kalau kamu nggak kuat baca cerita 'sadis' semacam ini, yaudah ini buku bukan buat kamu. atau disarankan juga sebetulnya, baca buku ini jangan langsung dihabisin gitu, tapi di-pause-pause, atau mungkin disambil-sambil baca buku lain aja. ya walaupun seperti bisa diduga, aku bacanya nggak bisa berhenti, sampai pada satu bab ketika aku baca buku ini, aku muntah-muntah.
aku ingat, waktu baca buku ini aku baru kepikir, ternyata bisa ya, hati dipatahkan berkali-kali oleh sebuah buku :( walaupun begitu, kalau kamu bisa, BACA BUKU INI.
menurut aku, buku ini betul-betul buku yang penting. terutama untuk kamu yang hidup, atau berencana untuk hidup di sekitar anak-anak. untuk aku, manusia dewasa yang tidak hidup bersama anak kecil pun, buku ini membantu aku untuk lebih mengerti tentang diri sendiri dan orang lain dengan lebih baik. karena kan semua orang dewasa, dulunya pasti pernah menjadi anak-anak.
melalui buku ini, aku juga baru sadar betapa berpengaruhnya masa-masa kehidupan manusia sejak dari lahir, bayi & balita, terhadap kehidupan kita, & pilihan-pilihan yang kita ambil setelah kita dewasa. buku ini juga menggaris bawahi pentingnya kehadiran orang dewasa pada masa-masa itu. aku juga jadi mengerti bahwa ternyata pengaruh trauma ketika manusia masih pada usia tersebut, akan berdampak jauuuh lebih besar daripada apabila trauma terjadi ketika kita sudah dewasa.
banyak quote yang penting, tapi aku salin yang ini aja:
for years, mental health professionals taught people they could be psychologically healthy without social support, that "unless you love yourself, no one else will love you." women were told that they didn't need men, and vice versa. people without any relationships were believed to be as healthy as those who had many.
these ideas contradict the fundamental biology of human species: we are social mammals and could never have survived without deeply interconnected and interdependent human contact. the truth is, you cannot love yourself unless you have been loved and are loved. the capacity to love cannot be built in isolation.
selamat membaca!
baca rekomendasi buku #2 di sini
Monday, September 30, 2019
kalau kalau suatu saat kamu membaca ini
kalau kamu mengenal aku dari melihat instagram storyku dan lalu ngobrol denganku di instagram dm, mungkin kamu akan melihat aku sebagai manusia yang ceria & bisa berteman dengan siapa saja. aku sangat mudah didekati. lalu kamu akan berpikir, "oh orang ini sangat baik & mengerti aku. aku bisa bercerita tentang apa saja & bertanya banyak hal kepadanya. mungkin juga dia bisa jadi temanku!"
lalu tidak sengaja kita bertemu di suatu tempat, dan kamu akan tau kalau ternyata aku orang yang bisa terlihat sangat kikuk, atau justru bisa jadi orang yang sangat mengintimidasi.
mungkin kamu jadi ragu-ragu apakah aku adalah orang yang sama dengan orang yang ngobrol denganmu di instagram tempo hari. kamu jadi kuatir, tapi lebih-lebih lagi, kamu kecewa, karena ternyata aku bahkan tidak ingat siapa kamu, walaupun kamu sudah sebutkan namamu & bilang, "ini lo aku, yang sering ngobrol sama kamu di instagram itu. yang selalu komenin stori-storimu." lalu kamu jadi sedih, karena ternyata aku jauh dari teman baru dan seru yang kamu bayangkan.
walaupun kecewa, tapi kamu tidak menyerah. jadi di waktu yang lain kamu memutuskan untuk bertemu lagi & meneruskan obrolan kita. ketika kita ngobrol, kamu menyadari bahwa, "wow ternyata dia benar orang yang ada di dm instagram itu, bahkan ternyata aselinya jauh lebih lucu!"
dan setelah itu kita berteman.
kamu bercerita tentang banyak hal kepadaku. termasuk rahasia-rahasia kecilmu, walaupun setelah itu ternyata aku masih akan lupa namamu. atau ketika bertemu lagi aku akan: "kita itu pernah ketemu apa enggak, sih?"
lalu kamu kecewa lagi.
kita berteman, tapi aku bahkan tidak ingat siapa namamu. "aneh. aneh sekali orang ini." tapi kamu baik. dan mungkin memang sedang sangat butuh teman saat itu. jadi kamu memutuskan untuk meneruskan ngobrol dan saling mengenal. terus, terus, terus, sampai aku tidak pernah lupa lagi namamu, & ingat semua cerita-ceritamu, bahkan mungkin lebih ingat dari kamu sendiri.
...
basuki pernah bilang, aku itu seperti bawang. banyak sekali lapisannya. dia selalu bilang, "setiap hari hidup sama kamu itu rasanya seperti sedang mengupas lapisan bawang satu persatu. setiap hari selalu akan ada lagi dan lagi lapisan baru di dalamnya." di waktu lainnya, dia bilang aku seperti boneka rusia yang setiap dibuka, masih akan ada lagi boneka lain di dalamnya. dan lagi, dan lagi.
kalau kamu mengenal aku, kamu akan tau kalau ternyata aku orang yang sangat suka bercerita. aku suka bercerita tentang banyak hal. tentang cerita sehari-hari, tentang buku yang sedang aku baca, tentang kelinci-kelinciku, tentang manusia-manusia yang aku temui sehari-hari, tentang apa yang aku lihat & pelajari hingga saat ini. kurang lebih aku adalah manusia seperti yang kamu lihat di instagram itu.
kalau kebetulan lebih jauh lagi kamu mengenal aku, kamu akan tau kalau kadang aku juga senang berbagi tentang pikiran-pikiranku sendiri, pendapatku tentang sesuatu, juga sedikit tentang apa yang aku rasakan di permukaan. kamu akan melihat aku lebih banyak. kamu jadi tau kalau ternyata selain lucu dan pintar, ternyata kadang-kadang aku juga bisa sedih. aku juga bisa marah. aku juga bisa salah. aku seperti aku yang kamu lihat di akun twitterku yang aku gembok sejak september 2017 itu, atau seperti aku yang bisa kamu baca di blog ini.
lalu pada suatu hari ketika kamu mendengar aku bilang sesuatu yang asing seperti: "aku bingung" atau "aku takut", itu mungkin karena kamu sudah menjadi salah satu dari sedikit sekali manusia istimewa yang aku pilih dengan sadar untuk aku bagi apa yang aku rasakan, juga sedikit rahasia-rahasiaku. itu mungkin karena aku percaya kamu.
dan kalau kamu kenal aku sedikit lebih jauh lagi, kamu akan paham kalau tidak mudah untuk aku menceritakan apa yang aku rasakan. karena kalau semudah itu, aku pasti sudah melakukannya di lapisan bawang yang lebih luar dari ini. aku pasti sudah menuliskan perasaanku di blog ini, di twitterku yang aku gembok, atau di instagram storyku yang setiap hari dilihat oleh ribuan orang itu.
tapi enggak, kan? untuk mereka aku hanya berbicara dengan simbol-simbol. untuk mereka aku menggambar, aku menulis, aku memilih lagu, aku mengquote buku.
tapi untuk kamu aku berani membuka hatiku.
kepadamu aku meminta tolong secara langsung, bukan melalui kode-kode dan sandi morse.
...
aku sudah bilang, dan aku ulangi lagi. bagiku membuka hati & mempercayai itu sulit sekali. sehari-hari aku memakai tameng & baju besi ke mana-mana. tapi tidak ketika denganmu. setelah aku letakkan tamengku, aku lepas baju besiku, & kubuka hatiku, lalu dengan ringan sekali kamu bilang:
"ya itu kan yang kamu rasakan, tapi gimana dong perasaannya dia?"
"ya itu kan yang kamu pikirkan, tapi kamu tau nggak, dia mikir gimana?"
apakah kamu paham, kalau aku hanya bisa bercerita tentang apa yang aku rasakan saja? aku tidak mungkin menceritakan perasaan orang lain (walau seberapapun relevan & erat kaitannya dengan apa yang sedang aku alami), karena aku tidak tau. perasaan mereka, pikiran mereka, bukan milikku. memang bukan aku yang seharusnya bercerita tentang bagaimana perasaan mereka. aku bercerita tentang ceritaku, karena cuma itu yang benar-benar milikku.
jadi kalau aku cerita padamu tentang yang aku rasakan, lalu kamu malah jadi penasaran ingin tau tentang perasaan orang lain, yang bisa kamu lakukan hanya bertanya pada orang itu secara langsung. kalau dia mau menjawab, mungkin kamu beruntung akan mendapat masukan bagaimana nanti kamu pada akhirnya harus menghakimi aku. yang kamu bisa dapat dari aku tentang dia, ya hanya yang aku pikirkan tentang dia, yang aku rasakan terhadapnya. yang semua itu sudah habis, aku ceritakan kepadamu berulang-ulang.
lalu kemudian kamu bilang:
"aduh aku jadi kasian tau, sama dia.."
"denger cerita-ceritamu tu, aku trus jadi kagum banget sama dia"
"akutu malah jadi kepingin bantuin dia, tau nggak sih"
kamu sadar atau tidak sih? SEMUA itu kamu simpulkan HANYA dari cerita-ceritaku, bukan cerita-ceritanya? dari kamu mengenalku, bukan mengenalnya? dari kamu menghabiskan waktu bertahun-tahun ini ngobrol denganku, bukan dengannya?
dari aku, kamu tau semua kelebihannya, kebaikannya.
seperti dari aku juga, kamu tau semua kekuranganku, kesalahanku.
setelah mendengar cerita-ceritaku. setelah aku buka perlindungan diriku di hadapanmu, sehingga kamu menemui aku dalam keadaan yang paling lemah, bagaimana kamu pikir ucapan-ucapanmu itu akan membuatku?
aku sedih karena yang aku ceritakan selama ini, ternyata enggak ada harganya sama sekali buat kamu.
aku sedih karena aku jujur, tapi kejujuranku justru kamu gunakan untuk menggaris bawahi kesalahan dan kekuranganku.
aku sedih karena pilihanku untuk tidak menceritakan yang bukan hakku, justru kamu pakai untuk memojokkan dan menyalahkanku.
aku sedih karena setelah sekian lama, ternyata kamu tidak percaya dengan kebenaran cerita-ceritaku.
bahwa bagaimanapun aku kurang & salah, yang aku rasakan itu tetap ada harganya.
uh, tiba-tiba aku lelah sekali.
aku kecewa karena aku kira kamu temanku.
ternyata bukan.
karena bagaimana bisa, kamu adalah teman, ketika setelah ratusan jam dan kalimat yang aku susun, yang kamu simpulkan dari semua itu adalah:
mungkin saja lo, orang itu yang benar, karena kan dia belum terbukti salah.
dan bisa saja aku yang salah, karena kata-kataku yang belum terbukti benar?
saat aku di hadapanmu, aku ingin kamu jadi temanku.
bukan jadi hakim atas cerita-ceritaku.
karena ini aku yang sedang bercerita.
bukan dia.
..
dan sekarang setelah membaca ini dan kamu mengenal aku lebih jauuuh jauh jauh lagi, kamu akan tau kenapa aku punya banyak sekali teman, tapi lebih sering aku merasa sedang sendirian.
karena hanya sedikit sekali ternyata, orang yang percaya kalau aku tetap orang baik, yang pantas didengar ceritanya, walaupun aku berbeda, walaupun aku salah.
..
apakah pernah terpikir di benakmu, kalau suatu saat nanti bisa saja tuhan berkata kepadamu: "kamu benar."
dan lalu: "tapi dia juga benar." sambil menunjuk pada musuh-musuhmu?
...
aku selalu percaya kamu orang baik.
kalau aku tidak menganggap kamu orang yang baik, tidak mungkin aku mempercayaimu dengan cerita-ceritaku.
dan aku tulus ketika waktu itu bilang: "kamu mungkin sekali benar, bahkan mungkin lebih benar daripada aku. mungkin aku cuma belum tau."
tapi sebelum pesan ini sampai kepadamu,
tidak akan ada lagi cerita dari aku.
Subscribe to:
Posts (Atom)

