mau jadi orang baik, enggak mampu.
mau jadi orang jahat, enggak berani.
mau jadi orang baik, enggak mampu.
mau jadi orang jahat, enggak berani.
tulisan yang akan selalu aku salin setiap kali aku berusaha menjelaskan tentang diriku sendiri ke orang yang committed to miss-understanding me. semoga taun ini tahun terakhir lah, ya, aku nyalin-nyalin quote ini. plis lah ah, bismillah.
"this is why you struggle with self-love. because you're constantly putting yourself in a position you'll be seen as more valuable. YOU ARE VALUABLE SIMPLY BECAUSE YOU EXIST. and for that reason, love, YOU DESERVE TO BE HEARD. feel that. and if you can't, it's because you have to keep disconnecting from yourself in order to defend your position with people who are committed to miss-understanding you.
when you entertain their drama, you validate their position & thus that you are not worthy of standing ten toes deep on yours. FALL BACK AND LEARN TO SAY OK, instead of writing that long paragraph or going on yet another diatribe. they often know the truth, but know that you will allow them to question it.
WE ARE NOT DOING THIS ANYMORE."
@lovingmeafterwe
contoh orang yang bertanya:
BUKAN contoh orang bertanya:
orang yang mengira dirinya sedang bertanya: "kamu masih sedih?"
aku: "iya"
orang yang mengira dirinya sedang bertanya: "jangan sedih, lah"
orang-orang yang mengira dirinya sedang bertanya adalah:
✔ orang baik
✔ orang yang peduli
✔ orang yang memiliki niat yang baik
✖ aku butuhkan
..
manusia-manusia well intention adalah manusia-manusia baik. hanya saja mereka tidak dibutuhkan. aku dulu (atau sampai sekarang juga, kalau sedang khilaf), adalah manusia well intention, jadi aku tau betapa besar keinginan untuk 'membantu' itu. sampai aku sadar kemudian, ternyata aku bukan ingin membantu, tapi sebetulnya aku sendiri yang tidak tahan dengan: kesedihan. kemarahan. kekecewaan. konflik. intinya, aku tidak mau terlibat dengan emosi manusia. terlalu berat, terlalu intens buat aku. please make it stop.
kenapa manusia bisa tidak tahan dengan emosi (yang adalah bagian dari menjadi manusia?) ya karena terbiasa saja. sejak kecil tertanam di benaknya kalau kekecewaan, kesedihan, kemarahan, konflik, adalah buah dari "kesalahan." yang mana kesalahan itu sebisa mungkin dicegah, dihindari, diperbaiki. segera. karena melakukan kesalahan itu salah. mungkin itu benar. tapi apakah ada, di dunia ini manusia (nabi termasuk) yang tidak pernah melakukan kesalahan? melakukan "kesalahan" adalah takdir menjadi manusia. seperti juga manusia ditakdirkan bisa sedih. bisa marah. bisa kecewa. jadi ya sedih itu tidak apa-apa. marah tidak apa-apa. kecewa tidak apa-apa. konflik tidak apa-apa. salah tidak apa-apa. karena bukan itu intinya.
emosi itu ada hanya untuk menyampaikan pesan. kurir. jadi kalo isi paketmu kurang atau salah, jangan mas-mas jne yang kamu maki-maki, gaes.
..
mamaku itu mungkin contoh yang tepat untuk menggambarkan manusia well intention = manusia yang bingung dengan emosinya sendiri . waktu adekku patah hati & mengurung diri di kamar - sebetulnya lebih tepat disebut sebagai tidur-tiduran di atas kasur sambil mendengarkan lagu sedih seperti remaja normal yang baru diputusin (catatan penting: baru juga hari pertama dia putus sama pacarnya), mamaku sudah bingung sekali. "aduh gimana itu adekmu dengerin lagu sedih terus, aku mau ajak papamu ke sensei untuk nanyain tentang adekmu." (bukannya tanya langsung ke orangnya, malah tanya ke sensei yg mesti bayar 250 ribu. hadeh). kalau mamaku baca ini pasti doi jawab: "ya gimana mau tanya anaknya langsung, dia selalu jawab gapapa, gapapa." YA IYALAH, BOS. kalau nanti dia jawab jujur: "aku sedih" paling-paling bakal disaut: "jangan sedih"
jangan tanya gimana mamaku tiap aku putus sama pacar, siapa yang nangis sampai matanya bengkak? YA MAMAKU. padahal aku yang putus cinta, bahkan aku yang mutusin, bukannya aku yg diputusin, lo. ya allah..
dan dulu aku menganggap itu hal yang baik. hati ibu, terhubung erat dengan hati anaknya. "kalau hati anaknya sakit, hati ibu itu ikut sakit!" begitu kata mamaku selalu.
baik.
tapi apakah perlu?
..
kalau setelah kamu baca tulisan panjang ini kamu masih: "kamu sih, belum pernah tau rasanya jadi ibu.", berarti kamu belum dapat inti dari tulisan ini.
gimana kalau kamu baca lagi tulisanku pada 12 oktober 2020 ini? tapi kalau habis itu masih tetep bingung ya sudah. berarti aku yang mesti baca lagi tulisanku di awal entry ini:
2022.
kali ini aku aku akan benar-benar berhenti menjelaskan tentang diriku sendiri kepada orang-orang yang tidak bertanya.
baca dulu bagian satu di sini.
..
manohara tidak pernah datang-datang lagi. tapi aku jadi jauh lebih sering melihat kucing. aku bilang sama basuki: "kok sekarang di kompleks ini jadi ada banyak kucing, ya?" basuki jawab: "loh dari dulu ya udah banyak." "OYAAA?!" aku pikir, berarti mungkin sebetulnya bukan selama ini tidak ada kucing di sekitarku, tapi aku yang memutuskan untuk tidak melihat mereka.
aku juga jadi jauh lebih sering melihat kucing liar di tempat-tempat lain, seperti misalnya di stasiun krl. di masa-masa sebelum pandemi itu, aku sedang suka sekali main sendirian naik kereta & wfs (work from sebuahtempatlucu 😐) yang berbeda-beda setiap hari selasa. jadinya kadang aku bawa makanan kucing untuk kucing-kucing yang aku temui di stasiun. aku melihat hubunganku dengan kucing juga membaik. aku tidak lagi merasa bertanggung jawab terhadap kucing liar, meskipun aku peduli terhadap mereka. aku mulai belajar membuat boundaries untuk diriku sendiri.
saat itu juga kebetulan aku sedang belajar bercocok tanam. untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa sebagai manusia, ternyata akarku sangat lemah, kecil, dan mudah patah. itu kenapa aku sangat mudah terombang ambing. aku pikir mungkin dengan belajar menanam, menumbuhkan sesuatu, bisa jadi salah satu caraku juga untuk menguatkan akar jiwaku sendiri. aku rasa mungkin itu juga kenapa selama ini, setiap aku mencoba menanam tanaman apapun, tanaman itu selalu mati karena bermasalah di bagian akarnya.
jadilah aku mulai belajar menanam sayuran di halaman belakang rumah. selama berbulan-bulan belajar menanam dengan berbagai cara gagal terus. bahkan setelah berhasil menumbuhkan berbagai sayur pun, enggak pernah bisa sampai panen, karena ketika tanaman sudah mulai besar, selalu saja lalu DIMAKAN TIKUS! aku beli kawat duri, beli buah bintaro, semua gagal. tikus-tikus tetap berhasil memakannya.
..
di masa-masa gagal panen itu, di rumah mulai kedatangan seekor kucing baru yang kemudian aku panggil: bolu. setiap bolu datang, aku kasih dia makan. sampai pada suatu siang aku entah tiba-tiba merasa dapat ide cemerlang dari mana, menawarkan bolu pekerjaan. sebetulnya aku nggak kenal-kenal amat sama bolu. kami bertemu baru tiga kali. tapi di mataku bolu terlihat seperti kucing yang sangat bertanggung jawab & mau bekerja. aku tanya sama dia, "mau nggak kamu, kerja di sini nungguin kebon sayurku? kerjanya mulai matahari tenggelam sampai matahari terbit. bayarannya makan minum sepuasnya & kalau sakit aku kedokterin?" aku perlihatkan kebon kecilku & aku bilang, "kalau kamu mau, datang yaa nanti sore!" lalu dia nyelonong pergi begitu saja. aku pikir, mungkin dia nggak tertarik. atau mungkin aku saja yang sudah gila mikir kucing bisa ngerti aku ngomong masalah tawaran pekerjaan, gaji & jaminan kesehatan.
tanggal sebelas bulan agustus. sore itu mendung sekali, padahal siangnya sangat terik. dan benar bolu datang lagi. tapi dia tidak sendirian. dia membawa anak-anaknya yang masih bayi. ENAM EKOR. lah ternyata dia ibu-ibu?! dan punya anak enam?! 😭
selesai memasukkan semua anaknya ke dalam gudang, hujan turun deras sekali. wuaaah drama sekali WHY?! gimanaaa iniii.. aku kebingungan harus bagaimana. tidak mungkin kan, sudah mulai gelap, mana sedang hujan deras begini aku usir ibu-ibu beranak enam YANG DATANG KARENA TADI AKU SENDIRI YANG SURUH DIA DATANG?! dia datang bawa anak-anaknya, ya iyalah kan dia ibu-ibu?! ya gimanaa aku bahkan nggak tau bedanya kucing jantan sama betina. apalagi membedakan apa betina ini sedang hamil atau menyusui atau enggak.. trus aku main kasih kerjaan aja ke dia. huhuhu. mana aku belum bilang basuki tentang bakal ada kucing tinggal di rumah, apalagi sekaligus tujuh. bagaimanaaa iniii. benar-benar tidak habis pikir sama diri sendiri. "kenapa sih feeen kok kamu tu ideee banget sukanya cari-cari masalah ajaaa." 🙈
(bersambung)
hari ke dua tanpa orin. dari kemarin rasanya seperti ingin muntah, tapi seperti perut nggak ada isinya. aku bertanya pada diri sendiri apa aku sedang lapar? tapi aku ingat kalau baru saja sejam yang lalu aku makan nasi padang nasinya seperempat.
aku berhenti sebentar untuk merasakan aku ini sebetulnya sedang merasa apa? apa benar aku lapar? aku menggambarkannya ke basuki sebagai: :"bukan lapar. tapi rasanya seperti tiba-tiba ada lubang besar di dalam dadaku yang ingin aku isi." kata basuki tiap hari dia merasa begitu. aku bilang "loh menderita sekali kamu, aku merasa begini cuma ketika patah hati." sekelebat aku ingat sampul buku deepak chopra: what are you hungry for, yang aku cuma baca isinya sampai mungkin halaman tiga. aku berpikir, apa mungkin isi bukunya tentang ini?
aku ngantuk dan capek sekali. tapi aku takut untuk tidur. selama ini aku selalu membanggakan diriku sebagai manusia yang mudah tidur dalam keadaan apapun, tapi nyatanya sekarang aku takut tidur. aku takut tidur karena aku takut menghadapi saat-saat sebelum tidur, dan saat-saat setelah bangun tidur. sebelum tidur rasanya tersiksa sekali karena pikiranku ke sana kemari berusaha mengingat semua yang terjadi dan memikirkan segala kemungkinan: apa yang sebetulnya terjadi kemarin? apakah kalau kemarin aku mengubah ini dan itu, hari ini orin akan masih hidup? lalu aku dilanda perasaan bersalah yang sangat besar. apakah seharusnya aku kemarin begini begitu? apakah karena salahku dia mati?
sesaat setelah bangun tidur tidak kalah menyiksa. rasanya seperti mesti mengulang lagi saat pertama kali mengetahui orin sudah mati. uh sakitnya tak tertahankan.
basuki terus-terusan bilang aku mestinya coba tidur aja. aku akhirnya mencoba tidur tapi ya tentu tidak bisa padahal sebenarnya ngantuk sekali. basuki tertawa melihat aku yang diam saja, dia kira aku sedang tidur, tapi ternyata mataku melotot. akhirnya aku memilih menghabiskan waktuku untuk menggugat tuhan. 😂
aku protes kenapa tuhan menciptakan aku dengan spek minimal, tapi dia kasih aku soal susah-susah banget terus-terusan. apa dia lupa spek ku itu seperti apa? atau ini cuma karena salah input data? tapi masa tuhan kok bikin salah? aku nggak ngerti. aku ini manusia sangat biasa saja yang sedang mati-matian belajar jadi manusia baik-baik, kenapaaa deh ya allah dicobain melulu. tu liat manusia bangsat sombong psikopat, bisa leluasa sampai TIGA KALI BUNUH KUCING di lingkungan rumahnya dan sampai sekarang nggak ada konsekuensinya itu gimanaaaaaaa itungannyaaa ya allah.
...
kata gus baha, manusia paling bahagia di dunia adalah manusia yang tidak pernah menggugat tuhan. lo ya jelas. orang itu tidak menggugat tuhan kan KARENA DIA SUDAH BAHAGIA. kalau udah bahagia masih menggugat tuhan itu namanya manusia serakah.
tapi setelah aku pikir-pikir lagi. lo ya aku dong, manusia yang serakah itu? aku udah dipinjemin orin dua tahun, bukannya makasih, yang punya mau ambil lagi miliknya kan ya mestinya aku serahkan dengan suka cita. terima kasih ya allah aku udah dipinjemi kucing terbaik di dunia. selama dua tahun ini aku mendapat banyak sekali berkah melalui dia. aku menerima perpisahan dengannya, seperti aku menerima engkau pertemukan aku dengannya. - bukannya: "KENAPAAA YA ALLAAAAH KOK KAMU AMBIL LAGI MILIKMU YANG UDAH KAMU PINJEMIIIN?" nyamuk-nyamuk yang lihat aku begitu pun bisa-bisa nyautin: "ya suka-suka dia, lah!" sambil menepuk jidat mereka masing-masing.
padahal tu kemarin aku otomatisasinya oke banget lo. pertama tau orin mati, aku gendong dia dengan tenang. bilang sama basuki: "udah sana kamu berangkat meeting dulu, i got this." aku sempat line dia, bermaksud memastikan dia baik-baik saja, nggak panik di jalan.
aku juga tau kematian ini berarti takdirku sama orin di sini cuma sampai saat ini. bahkan waktu teman-temanku marah ada manusia pembunuh kucing, aku bisa bilang: "biarin itu urusannya dia. orin bukan punyaku. biarin nanti orang itu berurusan dengan pemiliknya orin." (yang jelas-jelas jauh lebih berdaya dari pada aku).
tentu aku juga pernah menggugat tuhan sebelumnya (karena masalah yang lain lagi 😐), dan selalu dijawab: kamu nggak ngerti. aku lebih ngerti. dan kamu hanya bisa berusaha mengerti sampai batas tertentu, itu yang dinamakan menerima takdir sebagai manusia. selanjutnya yang kamu butuh adalah percaya. kecerdasan pikiran bisa membawa kamu jauh, tapi tidak sejauh itu.
yang begitu itu mungkin ya, yang orang sebut-sebut sebagai surrender..
..
lalu baru hari kedua, sudah ambrol semua gini, ya harap maklum. aku spek imannya kalaupun ada ya cuma tipis. nggak bisa dibandingin sama gus baha.
kalau tuhan, ya sudah tentu seperti biasanya selalu baik sama aku meskipun aku gugat terus. yang aku minta tadi, diberi bahkan sebelum aku selesai menulis entry ini. terima kasih. terima kasih. terima kasih. lain kali aku pasti minta-minta lagi.
aku pikir-pikir lagi, meskipun penuh dengan derita 😂, hidupku ini penuh keberuntungan juga. seumur hidupku hingga saat ini, tiga kali aku bertemu dengan sosok yang bisa membuat aku merasa: dilihat + didengar + diterima seutuhnya + dicintai tanpa syarat apapun. tiga kali aku bertemu dengan satu-satunya:
1. mak-e (manusia, kakaknya mamaku). meskipun aku baru menyadari kalau dia satu-satunya, 10+ tahun setelah kematiannya.
2. kimi (kelinci). aku sadar dia satu-satunya di satu tahun terakhir kehidupannya.
3. orin (kucing). aku langsung tau dia satu-satunya sejak pertama kali aku melihatnya. meskipun sayangnya, pertemuan kami singkat saja rasanya.
aku nggak tau untuk manusia lainnya. tapi untuk manusia seaneh aku, merasa benar-benar dilihat didengar diterima sebagaimana adanya adalah kemewahan. setiap pertemuan dengannya adalah cinta kasih yang berwujud berupa. setiap waktu yang berlalu dengannya adalah berkah yang tak terkira.
dicintai. aku merasa dicintai.
dan aku merasa terhubung. seperti jiwa kami terikat. kuat.
sayang sekali, mereka semua pergi dengan tiba-tiba. mungkin begini rasanya, menemukan sesuatu yang sangat berharga, satu-satunya, dan lalu beruntung dipinjami sebentar. ketika saatnya diambil lagi, rasanya hati ini seperti dirampok. seperti ada bagian besar hati ini yang dicerabut paksa & tiba-tiba hanya terdapat ruang kosong. tiba-tiba sakit dan sunyi, tapi kamu juga kehilangan konteks terhadap waktu, dan ruang, dan realita. meskipun aku paham, iya mereka bukan milikku. aku hanya dipinjami. tapi kenapa diambil terlalu cepat.. dan kenapa sangat tiba-tiba?
kemarin itu seperti ada tsunami. hari ini aku terbangun lalu aku melihat sekeliling: hanya aku yang hidup. sendirian.
..
dulu waktu kimi mati, aku merasa seperti jalan hidupku tiba-tiba dihadapkan pada jurang yang sangat dalam. aku bingung bagaimana aku bisa melanjutkan perjalanan? dia adalah satu-satunya. setelah kematiannya, setiap hari aku menulis surat untuknya selama dua tahun. ditulis tangan, di atas kertas, dan masing-masing aku masukkan di amplop yang tersegel. aku pikir hanya dengan begitu aku bisa melanjutkan hidup. di hari kematian kimi, aku bilang sama basuki:" aku nggak akan pernah bisa ketemu lagi, yang cinta sama aku seperti kimi mencintaiku. karena mana mungkin, manusia bisa menang lotere dua kali? manusia di dunia sangat banyak. mana mungkin aku bisa seberuntung itu: bertemu cinta sejati - lagi."
..
dulu sekali, waktu aku masih kecil, aku sangat suka kucing. atau mungkin bukan 'suka' kata yang tepat. aku merasa terhubung dengan kucing liar. seperti aku bisa memahami mereka. aku adalah mereka. setiap kali aku melihat kucing liar di jalan, hatiku seperti teriris-iris kesedihan yang dasyat. aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. aku sampai merasa sangat terganggu dengan perasaan itu, hingga pada suatu hari di dalam mobil di perjalanan ke rumah nenek teman kuliahku di bali, aku berdoa kepada tuhan: "tolong hilangkan rasa cintaku ke kucing, atau jangan pernah lagi pertemukan aku dengan kucing liar."
seingatku sejak saat itu, tidak pernah lagi aku bertemu dengan kucing liar. kalaupun bertemu hewan liar, aku lebih sering bertemu anjing. & bertemu anjing liar itu, rasanya tidak mengiris hati seperti bertemu kucing liar. aku senang bertemu mereka, sampai suka sekali bawa makanan anjing ke mana-mana meskipun tidak punya anjing.
sampai bertahun-tahun kemudian aku bekerja di jakarta, aku berteman dengan orang-orang yang sangat tidak suka kucing. aku sangat suka pada teman-temanku, sampai aku meyakini bahwa aku pun tidak suka kucing lagi. bahkan aku bertanya-tanya; kok bisa ya dulu aku suka kucing? mereka kan sama sekali enggak lucu. (kayaknya aku bahkan pernah nulis di blog tentang ini). di saat-saat itu, aku mulai melihat kucing-kucing liar lagi, tapi aku tidak merasa sedih lagi ketika melihat mereka. sekarang aku pikir-pikir lagi, oh itu ya, caraku dan alam raya membentengi hatiku dari rasa sakit bertemu kucing liar? membangun tembok yang tinggi, dan tebal, dan kuat - selama bertahun-tahun.
...
3 tahun setelah kematian kimi, rumahku kedatangan kucing liar. waktu itu aku bilang sama dia: "akutu nggak suka kucing lagi, lo. ngapain kamu ke sini? aku ini bukan cat person." 😅 aku bilang begitu sama dia, tapi aku biarkan saja dia setiap hari masuk ke dalam rumah & duduk di kursiku. aku bahkan namai dia: manohara. dia datang setiap hari padahal aku enggak kasih dia makan. aku bilang sama dia: "aku punyanya makanan anjing." tapi pada suatu hari aku menemukan diriku sendiri membeli makanan kucing untuk manohara.
14 februari 2018, manohara datang dan duduk lama sekali di pangkuanku. sambil mengelus punggungnya, dalam hati aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa iya aku mau mulai cinta lagi sama kucing? apa aku sudah siap dengan sakitnya?
hari itu, hari terakhir kami bertemu.
(bersambung)
menulis cerita ini, tiba-tiba aku ingat beberapa waktu yang lalu seorang teman bertanya: "menurutmu, apa mungkin di kehidupanmu sebelumnya kamu adalah stray cat?" padahal dia enggak tau ceritaku dengan kucing ini, lo. (tapi sih dia tarrot reader 😐)