Tuesday, July 26, 2011

kumpeni

syusssshh..

sebentar lagi bulan puasa. lalu lebaran. pulang desa. bukan pulang kampung. soalnya kampung tidak sama dengan desa. seperti kampungan beda dengan ndeso. kalau saya sih senang dibilang ndeso. lebih eksotis. kalau dibilang kampungan itu sudah lain cerita.

tadi mau cerita apa malah lupa.

oiya.

saya sudah mulai dari bulan lalu mencari tiket pulang. karena sekarang desanya ada dua dan orangnya juga dua, maka jumlah tiket yang harus dibeli juga jadi 2 dikali 2 dikali 2 lagi. 2 pangkat 3. (bener nggak ini itungannya)

uangnya yang harus dibayar juga dikali sejumlah itu

pilihan kami naik pesawat murah, atau kereta api eksekutif. dulu pernah saya pulang lebaran naik kereta bisnis dari bandung dengan pertimbangan kereta bisnis lebih murah & di kereta bisnis siang walaupun bukan ac tapi biasanya tidak banyak yang merokok, berbeda dengan kereta bisnis malam.

tapi walalala.. ternyata gerbong kereta berjejalan manusia. bahkan ada ibu menyusui yang duduk di lantai kereta sampai terinjakinjak sama orangorang yang baru masuk. para petugas berseragam memukulmukulkan pentungannya ke gerbong & jendela kereta sambil marahmarah dengan suara & bahasa kasar, meminta orangorang semakin merapat supaya lebih banyak lagi orang yang bisa diangkut. saya takjub. perasaan antara sedih marah bingung kaget. waktu itu masih ramadhan. orangorang belum habis berpuasa..

...
jadilah lebaran nanti saya mencari tiket pesawat. supaya lebih hemat waktu & tenaga karena rute lebaran kami lumayan juga jaraknya. jakarta-surabaya-jogja-jakarta dengan waktu cuti yang terbatas. saya tanya ke travel langganan. ternyata tiket pesawat paling murah harganya hampir 900 ribu masingmasing. karena berpikir tidak mampu beli, saya bilang suami saya: "kita naik kereta saja yuk, berpetualang. lebih seru" dia setuju

menurut pengalaman lebaran sebelumnya, menginap di stasiun gambir dari malam untuk antri membeli tiket yang loketnya baru dibuka jam 6 pagi adalah tindakan yang siasia. tiket habis, pada pembeli urutan ketiga.

jadilah saya minta tolong papa di jogja belikan tiket kereta. utang dulu, bayar nanti setelah gajian. (kalau saya belum keburu dipecat)

loket yang menurut pengumuman dibuka 40 hari sebelum hari H bahkan sampai hari ini (30 hari sebelum hari H) belum sekalipun dibuka. bahkan petugasnya bilang: "tiket sudah habis" kata papa, di stasiun penuh orang yang marahmarah. 2 jam milik papa yang seharusnya bisa dipakai untuk bekerja, siasia dibuang di stasiun.

kemarin papa telepon, katanya yang sudah dapat baru tiket kereta surabaya-jogja. harganya 600 ribu. saya shock. sby-jgj itu seharusnya tiket yg paling murah.. harga tiket di hari normalnya saja 150 ribu. naik 400 %?

setelah telepon ditutup saya menangis, teringat dulu waktu sekolah saya tinggal di jogja, dekat sama papa. mana pernah saya berpikir lebaran kepingin bertemu harus beli tiket dulu yang harganya benarbenar tidak masuk akal.. kalaupun harus membayar sesuatu, pasti bukan saya yang berpikir bagaimana caranya..

waktu saya sekolah dulu, saya tidak pernah tau di indonesia ini ada saja pihak berwenang & para calo yang setega itu menaikkan harga (dan bahkan tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk orang yang ingin membeli tiket dengan cara wajar: antri, bukan lewat calo)




indonesia sudah merdeka 66 tahun

tapi orang bisa dengan enaknya mengambil hak orangorang lain

ini penjajahan, namanya









No comments:

Post a Comment